Lingkar Tarjamah: Alih Bahasa Satukan Makna

Daftar Isi

Lingkar Tarjamah

 Oleh: Muhammad Irsyad

Mendekati penghujung masa bakti, Senat Mahasiswa Fakultas Bahasa Arab (SEMA FBA) Mesir mempersembahkan sebuah program kolaborasi dengan tajuk Lingkar Tarjamah pada hari Senin, 20 Juli 2026. Program ini merupakan hasil kerjasama antara SEMA FBA dengan KBRI Kairo yang diikuti sebanyak 30 orang peserta. Mengambil tempat di Balai Bhineka KBRI Kairo, program ini berhasil menarik minat serta perhatian dari kalangan Mahasiswa Indonesia Mesir, untuk membekali serta mempersiapkan diri menjadi seorang penerjemah tersumpah di masa akan datang.

Program ini dibagi menjadi empat pertemuan, pertemuan pertama dilangsungkan di KBRI Kairo dan tiga pertemuan berikutnya akan dilaksanakan di Kantor ATDIKBUD Kairo. Acara ini dimulai pada pukul 14.30 sore dengan pembukaan formal, pembacaan ayat suci Al-Quran, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia dan mars PPMI, lalu kata sambutan dari berbagai pihak. Sambutan pertama oleh ketua pelaksana Lingkar Tarjamah  sekaligus Pimpinan Redaksi Fan Maqal Mihal Hayail, sambutan kedua oleh Ketua SEMA FBA Mesir Muhammad Fathin Fadlullah, dan Duta Besar RI untuk Mesir Bapak Kuncoro Giri Waseso.

Dalam sambutannya, Dubes RI menyampaikan apresiasi kepada Bapak Atase Pendidikan dan terkhusus kepada SEMA FBA sebagai pihak penyelenggara acara Lingkar Tarjamah. Beliau berharap acaranya ini bukan hanya mengasah kemampuan berbahasa Arab secara teknis, tetapi juga membangun etika akademik, ketelitian, tanggungjawab ilmiah, serta kejujuran terutama dalam kehidupan di tengah masifnya perkembangan kecerdasan buatan saat ini. 

Acara kemudian dilanjutkan dengan pengambilan foto bersama. Setelah sesi foto bersama selesai,  acara memasuki sesi materi yang disampaikan langsung oleh Bapak Abdul Muta’alli, MA, M.I.P., Ph.D. Pada pertemuan pertama ini, Bapak Abdul Muta’alli menjelaskan tentang relativitas penerjemahan. Dalam dunia penerjemahan, tidak ada yang namanya benar atau salah. Namun, yang ada hanyalah baik atau buruknya sebuah terjemahan. Dalam penerjemahan, seorang penerjemah bukan hanya dituntut memilih kata yang pas, tetapi juga harus memiliki pengetahuan yang luas.

Seorang penerjemah juga dituntut untuk memahami konteks, latar belakang, serta kebutuhan audiens. Tak heran jika beliau mengatakan bahwa seorang penerjemah itu adalah mutsaqqaf,  seseorang yang terpelajar, berwawasan luas, berbudaya, atau seorang intelektual. Bagaiamana sebuah terjemahan dapat dipahami audiens dengan latar belakang beragam merupakan PR bagi setiap penerjemah. Beliau lalu menambahkan bahwa menjadi penerjemah merupakan aset yang sangat berharga, mulai dari menambah wawasan baru karena berkecimpung dengan berbagai teks-teks interdisiplin ilmu hingga pendapatan yang diperoleh sebagai seorang penerjemah tersumpah yang memang menggiurkan. Tapi, semua hal itu tentu didapat dengan usaha yang keras dan matang.

Setelah pemaparan materi oleh Bapak Abdul Muta’alli, acara bergeser kepada sesi tanya jawab. Selanjutnya, acara ditutup dengan ISHOMA dan pembagian konsumsi serta pengisian Post Test sebagai bentuk follow up pertemuan pertama ini. Sebagai informasi lanjutan, tiga pertemuan selanjutkan akan dilaksanakan di Kantor ATDIKBUD.


tarjamah


 

 

Posting Komentar