Badr ad-Din al-’Aini; Wafid dari Turki pendiri Madrasah al-’Ainiyah (Part 2)
Oleh : Musthofainal Akhyar
Identitas Madrasah
Madrasah yang kini berdiri sunyi di balik
Al-Azhar bukan sekadar tempat mengajar biasa. Ia adalah sebuah madrasah yang
lahir dari tangan al-’Aini sendiri. Bagi seorang pendatang dari ’Ayntab yang
harus merangkak dari nol di kota asing, membangun madrasah adalah pernyataan
keberhasilan yang jauh lebih kuat daripada sekadar gelar atau jabatan.
Batu-batu yang disusun menjadi dinding madrasah ini seakan-akan berkata, “Aku
telah tiba, dan aku telah menetap.”
Dalam tradisi keilmuan Islam abad pertengahan, mendirikan madrasah sendiri sesungguhnya bukan hal yang lazim dilakukan oleh seorang ulama. Biasanya, hanya sultan atau amir besar yang memiliki kekuasaan untuk membangun kompleks keagamaan berskala besar. Bahwa al-’Aini, seorang ulama pendatang, berhasil mendirikan madrasah di jantung kota Kairo, berdampingan dengan al-Azhar yang telah berusia hampir empat ratus tahun ketika madrasah ini berdiri, menunjukkan betapa besar akumulasi pengaruh yang berhasil ia dapatkan sepanjang karier yang panjang. Ini bukan sekadar pencapaian keilmuan semata, melainkan juga pencapaian politik dan ekonomi yang jarang diraih oleh seorang ulama yang memulai kariernya sebagai perantau.
Drama di Balik Dinding: Rivalitas Dua Raksasa Kairo era malmuk
Membicarakan al-‘Aini tidak lengkap tanpa
menghadirkan sosok kedua: Taqi al-Din Abu al-’Abbas Ahmad bin Ali al-Maqrizi.
Berbeda dengan al-’Aini yang menempuh jalan panjang dari ’Ayntab hingga Kairo,
al-Maqrizi adalah seorang putra daerah yang lahir dan besar di Kairo sendiri
pada 766 H (1364 M). Ketika seorang pendatang dari Turki seperti al-’Aini
mendapatkan tempat yang terhormat di kota kelahirannya sendiri, benih
kecemburuan pun mulai tertanam dalam diri al-Maqrizi. Hal ini terjadi bukan
tanpa alasan. Posisi yang direbut al-’Aini bukan sembarang posisi, melainkan
jabatan yang pernah dipegang al-Maqrizi sendiri, yakni Muhtasib.
Setelah menarik diri dari hiruk-pikuk
birokrasi istana, al-Maqrizi justru menemukan panggilan hidup yang sesungguhnya
lewat pena. Ia menghasilkan lebih dari dua ratus karya tulis sepanjang
hidupnya, sebagian besar berfokus pada sejarah dan topografi Mesir. Dua
karyanya yang paling monumental adalah al-Mawâ’iz wa al-I’tibâr bi Dzikr
al-Khitât wa al-Âtsâr yang lebih dikenal sebagai Al-Khitât, sebuah
catatan topografi dan sejarah Kairo beserta seluruh monumennya, dan Kitab al-Sulûk
li Ma’rifat Duwal al-Mulûk, sebuah catatan besar tentang sejarah
pemerintahan Mamluk dari masa ke masa. Ia dikenal sebagai sosok yang sangat
terpengaruh oleh pemikiran Ibn Khaldun, khususnya dalam caranya membaca
pergerakan sejarah sebagai sebuah proses sebab-akibat yang bisa dianalisis,
bukan sekadar kumpulan kisah tanpa pola.
Sebab Rivalitas
Sumbu yang menyalakan kompor rivalitas ini
adalah jabatan Muhtasib Kairo, posisi pengawas pasar dan moral publik
yang sarat wibawa dan pengaruh politik. Sepeninggal Sultan Barquq, al-’Aini
berhasil merebut kursi ini, menggeser al-Maqrizi yang sebelumnya memegangnya.
Menurut catatan al-Maqrizi, kemenangan al-’Aini tidak lepas dari sokongan Amir
Jakm bin ’Awd yang berkuasa di istana. Namun sejarawan lain, Ibn
Taghribirdi, memberikan catatan yang sedikit berbeda: menurutnya, pengangkatan
al-’Aini adalah hasil kerja sama antara Jakm dan dua amir lain, yakni
Qalamtay al-’Utsmani dan Taghribirdi al-Qurdami.
Belakangan, dalam pemerintahan al-Nasir Faraj,
putra dan penerus Barquq, al-‘Aini justru mendapatkan jabatan yang jauh lebih
strategis dan menguntungkan, yakni Nazîr al-ahbâs, atau pengawas
wakaf-wakaf keagamaan. Ia beberapa kali dicopot dan diangkat kembali dari
jabatan ini, hingga akhirnya benar-benar mengamankannya secara permanen di masa
pemerintahan Sultan Mu’ayyad Syaikh, hingga usianya menginjak sembilan puluh
satu tahun. Semakin tua usianya, semakin besar pula wibawa dan pengaruh
al-’Aini di mata istana Mamluk. Sebuah ironi tersendiri bagi al-Maqrizi yang
justru semakin menjauh dari gemerlap kekuasaan dan memilih jalan sunyi sebagai
penulis sejarah.
Perang Pena dan Sindiran
Dari perseteruan politik inilah lahir apa yang
layak disebut sebagai “perang pena”. Sebuah pertarungan yang jauh lebih tajam
dan bertahan lama dibandingkan sekadar perebutan kursi Muhtasib. Kedua
raksasa ini saling menyindir lewat tulisan, saling mengomentari karya satu sama
lain dengan nada yang tak jarang pedas dan personal. Al-Maqrizi, dalam berbagai
catatannya, tak segan menuliskan versi peristiwa yang menyudutkan al-’Aini
sebagai sosok yang naik ke tampuk kekuasaan lewat jalan pintas kedekatan dengan
amir. Sementara al-’Aini, dengan gaya penulisan sejarah yang lebih terperinci
dalam ’Iqd al-Jumân, turut menyisipkan catatan-catatan yang tak selalu
menguntungkan reputasi rivalnya.
Setiap kitab yang mereka tulis seolah menjadi
arena baru untuk menegaskan siapa yang lebih layak disebut sebagai otoritas
sejati di kota ini. Ironisnya, meski saling bermusuhan, keduanya justru saling
membaca karya satu sama lain dengan seksama. Peristiwa perebutan jabatan Muhtasib
dianggap sebagai salah satu insiden paling ikonis yang menggambarkan
bagaimana ilmu pengetahuan, ambisi pribadi, dan politik istana saling
berkelindan tanpa bisa dipisahkan pada era Mamluk.
Makna Madrasah
Jika al-Maqrizi memilih untuk mengabadikan
namanya lewat pena, lewat ratusan karya yang ia tulis tentang topografi,
sejarah, dan kehidupan sosial Mesir, al-’Aini memilih untuk mengabadikan
namanya lewat batu. Ia tidak sekadar ingin diakui sebagai ulama besar; ia ingin
punya rumah dan panggung sendiri, dan pada akhirnya, tempat peristirahatan
abadi yang menjadi miliknya sepenuhnya. Sebuah madrasah bukan hanya tempat
mengajar, melainkan pernyataan eksistensi yang akan terus berdiri jauh
melampaui usia manusia yang mendirikannya. Dalam konteks inilah kemegahan
Madrasah al-‘Ainiyyah harus dibaca. Berdirinya madrasah ini secara mandiri,
tegak berdampingan dengan Al-Azhar yang sudah berusia 400 tahun waktu itu adalah
simbol legitimasi di kota Kairo.
Warisan Badr ad-Din al-’Aini
Madrasah
al-’Ainiyyah adalah jejak nyata perjalanan seorang perantau yang berhasil
mengukir posisi tertinggi dalam hierarki keilmuan dan kekuasaan Mamluk. Bangunan ini kini menjadi rumah abadi
bagi al-’Aini dan Imam al-Qasthalani, dua penulis syarah Sahih al-Bukhari
yang karyanya terus dikaji lintas generasi. Bagi
siapa pun yang melintasi gang sempit di balik dinding megah Al-Azhar, madrasah
ini layak menjadi persinggahan sejenak dan sebagai pengingat bahwa di balik
kemegahan Al-Azhar yang dikenal dunia, tersimpan pula warisan keilmuan lain
yang tak kalah berharga. Lahumâ al-Fâtihah...

Posting Komentar