Badr ad-Din al-’Aini; Wafid dari Turki pendiri Madrasah al-’Ainiyah (Part 1)
Oleh : Musthofainal Akhyar
Sudut Sunyi di Balik Al-Azhar
Di balik dinding megah Masjid Al-Azhar yang telah
berdiri lebih dari seribu tahun, tersembunyi sebuah bangunan kecil yang jarang
disinggahi peziarah dan mahasiswa yang melintas: Madrasah al-’Ainiyyah.
Bangunan ini didirikan pada abad kelima belas oleh Badr ad-Din al-’Aini,
seorang ulama pendatang dari ’Ayntab—kini Gaziantep, Turki—yang menempuh
perjalanan panjang dari Turki ke Bumi Kinanah hingga meraih posisi yang sangat
berpengaruh di istana Mamluk. Berdiri tanpa papan penunjuk yang mencolok di
seberang Maktabah tahta Syajaroh, madrasah ini menyimpan salah satu
babak penting sejarah keilmuan Kairo.
Nama al-’Aini dikenal luas lewat karya
monumentalnya, ’Umdat al-Qâri’ fî Syarh Sahîh al-Bukhâri, salah satu
syarah Sahih al-Bukhari paling otoritatif sepanjang sejarah. Jauh sebelum
menjadi ulama besar, ia adalah perantau yang membangun reputasi keagamaan dan
politik dari nol di kota yang bukan tanah kelahirannya. Madrasah yang ia
dirikan, berdampingan dengan Al-Azhar, menjadi bukti fisik dari perjalanan itu,
sekaligus tempat peristirahatan terakhir.
Mengenal Sang Arsitek Sejarah, Al-‘Aini
Namanya Abu Muhammad Mahmud bin Ahmad bin Musa.
Dunia mengenalnya sebagai Badr al-Din al-’Aini. Gelar “al-’Aini” sendiri adalah
nisbat kepada kota kelahirannya, ’Ayntab, yang kini Bernama kota Gaziantep di
Turki modern. Ia lahir pada 26 Ramadan 762 H, bertepatan dengan 30 Juli 1360 M,
dari sebuah keluarga yang sudah akrab dengan dunia keilmuan. Sejak muda, ia
tumbuh sebagai pemuda yang fasih berbahasa Turki, menguasai bahasa Persia, dan
tenggelam dalam kajian sejarah, adab, serta ilmu-ilmu keislaman yang saat itu
berkembang pesat di kawasan Anatolia dan sekitarnya.
Perjalanan intelektual al-‘Aini membawanya
berkelana jauh dari tanah kelahiran. Pada 788 H (1386 M), ia menyeberang ke Yerusalem,
tempat di mana ia berguru kepada Syekh Hanafi al-Sayrami, seorang tokoh yang
saat itu memimpin Madrasah Zahiriyah yang baru berdiri sekaligus menjadi pusat khanqâh,
tempat para sufi menempa diri. Ketika al-Sayrami wafat pada tahun 790 H (1388
M), al-’Aini sempat terlibat konflik pribadi dengan seorang amir bernama Jarkas
al-Khalili yang berusaha mengusirnya dari Kairo. Al-’Aini bahkan menggambarkan amir tersebut dalam catatannya sebagai
sosok yang angkuh dan gemar memuja pendapatnya sendiri. Beruntung, salah satu gurunya, Siraj ad-Din al-Bulqini,
turun tangan menyelamatkannya dari pengusiran, meski al-’Aini akhirnya tetap
memilih pergi untuk sementara waktu demi kehati-hatian.
Dari Kairo, ia
sempat mengajar di Damaskus, tempat di mana ia pernah diangkat sebagai muhtasib,
pengawas pasar dan moral publik yang berwenang menegakkan syariat di ranah
perniagaan. Pengalaman ini kelak menjadi bekal penting bagi al-‘Aini ketika ia
kembali ke Kairo sebelum tahun 800 H (1398 M) dan mulai merangkak naik dalam
hierarki kekuasaan istana Mamluk. Ia
memperkuat posisi sosial dan politiknya dengan mendekatkan diri kepada sejumlah
amir berpengaruh, bahkan menunaikan ibadah haji bersama Amir Tamarbugha
al-Mashtub. Namun
yang paling menentukan jalan hidupnya adalah perlindungan dari Amir Jakm
min ’Awd, seorang Dawadar—secara harfiah berarti “pemegang tempat
tinta”, yakni sekretaris atau penasihat kepercayaan—bagi Sultan Barquq. Panggung sesungguhnya baru terbuka lebar
ketika ia menginjakkan kaki di Kairo untuk kesekian kalinya.
Kedekatan dengan Istana dan Ingatan yang Fenomenal
Salah satu hal yang membuat al-’Aini begitu
istimewa di mata penguasa Mamluk—yang sebagian besar berasal dari kalangan
budak militer keturunan Turki dan Sirkasia yang fasih berbahasa Turki namun
kurang lancar berbahasa Arab—adalah kemampuannya menjembatani dua bahasa. Pada masa-masa
akhir hidupn al-‘Aini, ia kerap dipanggil untuk membacakan catatan-catatan
sejarah di hadapan sultan, membacakannya dalam bahasa Arab lalu menerjemahkan
dan menjelaskan kembali dalam bahasa Turki agar sang penguasa benar-benar memahami
isinya. Sultan al-Ashraf Barsbay bahkan pernah berkata bahwa Islam hanya bisa
dipahami lewat perantara al-‘Aini.
Kedekatan dengan istana semacam ini tentu
bukan tanpa risiko. Seorang ulama yang terlalu dekat dengan kekuasaan mudah
dicurigai kehilangan independensinya. Al-’Aini pun tak luput dari sorotan
semacam itu sepanjang kariernya yang panjang. Namun, justru dari posisi yang serba
dilematis inilah ia berhasil mengukir jalannya sendiri: al-‘Aini menjadi ulama
yang dihormati karena kedalaman ilmunya, sekaligus pejabat yang disegani karena
kedekatannya dengan tampuk kekuasaan tertinggi di Kairo.
Kedekatan ini pula
yang mengantarkannya pada jabatan-jabatan tinggi lain: pada 829 H (1426 M),
Barsbay mengangkatnya sebagai Qadi Agung Mazhab Hanafi, jabatan tertinggi dalam
hierarki peradilan bagi pengikut mazhab tersebut. Ia sempat dicopot dari
jabatan ini tiga tahun kemudian bersamaan dengan Qadi Agung Mazhab Syafi’i saat
itu, Ibn Hajar al-’Asqalani, penulis Fath al-Bari yang karyanya begitu
sering ia rujuk sekaligus ia perdebatkan. Menurut catatan al-’Aini sendiri,
pencopotan keduanya secara bersamaan disebabkan oleh perseteruan yang tak
kunjung reda antara dua Qadi Agung ini, yang dianggap mengganggu jalannya tugas
peradilan. Meski al-‘Aini menambahkan bahwa tuduhan itu sendiri sebenarnya
adalah fitnah yang disebarkan oleh musuh-musuhnya di istana. Ia kemudian diangkat kembali ke jabatan yang
sama, dan pada 823 H (1420 M) sempat dipercaya Sultan Mu’ayyad Syaikh sebagai duta
besar untuk Dinasti Qaramaniyah di Anatolia.
Di kalangan ulama
Syam, al-’Aini juga dijuluki sebagai Muhaddits terbesar zamannya. Gelar yang
diberikan karena hampir seluruh ulama dan syekh di Damaskus mengakuinya sebagai
guru. Mereka yang menetap di kota itu rutin menghadiri majelis pengajaran
al-‘Aini setiap hari. Ia dikenal memiliki ingatan yang nyaris fotografis,
kemampuan yang memungkinkannya menghafal ribuan riwayat hadis beserta sanadnya
tanpa harus terus-menerus membuka catatan. Sebuah keahlian yang kelak,
ironisnya, mulai memudar di usia senjanya. Pada 853 H (1449 M), dua tahun
sebelum wafat, ia dicopot dari jabatan Nazîr al-Ahbâs (administrator
harta wakaf) yang telah lama ia pegang, kali ini kemungkinan besar karena
ingatannya yang mulai melemah dimakan usia.
Karya Monumental
Sebagai seorang pendatang, al-’Aini tidak
datang dengan tangan kosong. Ia membawa serta ambisi keilmuan yang kelak
melahirkan karya-karya monumental yang hingga kini masih menjadi rujukan wajib
di berbagai halaqah keilmuan dan universitas Islam di seluruh dunia.
Karya paling masyhur darinya tentu saja ’Umdat
al-Qâri’ fî Syarh Sahîh al-Bukhârî. Sebuah kitab syarah raksasa atas Sahih al-Bukhâri
yang ditulis dengan ambisi menyempurnakan karya-karya syarah sebelumnya. Ia
mulai menuliskannya pada akhir bulan Rajab 820 H dan baru menuntaskannya
pada 5 Jumadi al-Awwal 847 H. Artinya, kitab ini digarap selama lebih dari dua
puluh tahun penuh. Naskah aslinya tersusun dalam dua puluh satu jilid, meski
dalam cetakan modern ia berkembang menjadi dua puluh lima jilid tebal. Salah
satu rujukan utama yang ia gunakan justru adalah Fath al-Bari karya Ibn
Hajar al-’Asqalani, rival sekaligus mitra dialektikanya dalam dunia keilmuan
hadits.
Yang membuat ’Umdat
al-Qâri’ berbeda dari Fath al-Bari adalah fokusnya pada penjelasan
linguistik dan gramatikal, serta komentar fikih yang kental dengan nuansa
mazhab Hanafi. Dalam banyak
kesempatan, ia menjelaskan keterkaitan antara hadits dengan judul bab yang
disusun Imam al-Bukhari, memberikan penjelasan tentang faedah setiap hadits,
serta menyertakan biografi ringkas para perawi. Karya ini pun diposisikan oleh para
peneliti sebagai mahakarya dari seorang ulama yang menguasai dua disiplin ilmu sekaligus:
ilmu hadits dan ilmu fikih.
Selain ’Umdat
al-Qâri’, al-’Aini juga meninggalkan warisan besar dalam bidang sejarah
lewat ’Iqd al-Jumân fî Târîkh Ahl al-Zamân. Buku ini adalah catatan sejarah
yang merekam zamannya, mulai dari intrik istana, pergantian sultan, hingga
peristiwa-peristiwa penting yang al-‘Aini saksikan atau dengar langsung dari
para pelaku sejarah. Karya
berjilid-jilid ini kelak diterjemahkan sebagian ke dalam bahasa Prancis dengan
judul Le Collier des Perles. Karya ini menempatkannya bukan hanya
sebagai ahli hadits dan fikih, tetapi juga sebagai sejarawan penting era
Mamluk, sejajar degnan rivalnya sendiri, al-Maqrizi, yang juga dikenal sebagai
penulis sejarah paling produktif.
Kombinasi antara kepakaran hadits, fikih, sejarah, dan diplomasi menjadikan al-’Aini sebagai salah satu figur paling multidimensi pada zamannya. Al-‘Aini adalah seorang ulama yang tidak hanya duduk di menara keilmuan, tetapi juga aktif bernegosiasi di ruang-ruang kekuasaan.
Posting Komentar