Karbala; Ketika Kebenaran Berhadapan dengan Kekuasaan

Daftar Isi

 

karbala

Oleh: Nurkholisah Azzahra Khumairah

    Tragedi Karbala merupakan salah satu peristiwa yang sangat tragis. Ia menumbuhkan luka batin yang begitu mendalam di kalangan umat muslim, khususnya  bagi penganut Syi’ah sekaligus menjadi titik balik besar dalam peristiwa sejarah umat Islam. Dalam peristiwa tragis ini, Al-Husain bin Ali–cucu Nabi Muhammad SAW dari putrinya, Fatimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib–gugur bersama segelintir keluarga serta pasukan setianya yang menyertai beliau hingga ke Kufah. Ia gugur setelah dikepung oleh ribuan pasukan Umayyah pada masa Khalifah Yazid bin Muawiyah yang sedang berkuasa. 

    Peristiwa ini terjadi pada 10 Muharram 61 H (10 Oktober M) di padang Karbala, wilayah Irak sekarang. Pertempuran yang tidak seimbang ini bukan sekedar bentrokan militer saja, melainkan sebuah pernyataan sikap politik dan moral yang gaungnya masih dikenang oleh umat Islam sebagai simbol perjuangan dalam mempertahankan prinsip dan keadilan.

    Penyebab utama dari meletusnya Tragedi Karbala adalah kekuatan politik keduniawian yang berlebihan dari Dinasti Umayyah, watak kejam tak berperikemanusiaan dari Ubaidillah bin Ziyad, serta sifat plin-plan dan pengkhianatan berulang dari penduduk Kufah yang meninggalkan utusan Nabi saat sedang genting. Semua itu berbenturan dengan keteguhan prinsip Imam Husain yang menolak memberikan legitimasi kepada pemimpin saat itu. 

    Akar dari konflik ini terjadi pasca wafatnya khalifah pertama Dinasti Umayyah, Muawiyah bin Abi Sufyan. Kekuasaan kemudian beralih ke anaknya, Yazid bin Muawiyah. Namun, Imam Husain menolak memberikan baiat kepada Yazid. Beliau menolak karena  pengangkatan tersebut dilakukan secara sepihak oleh Muawiyah yang langsung menunjuk putranya sebagai khalifah. Langkah ini ditolak Imam Husain karena dinilai melanggar tradisi musyawarah umat. Imam Husain menganggap memberikan sumpah setia (baiat) kepada Yazid adalah ancaman nyata bagi ajaran Islam yang murni. Beliau memilih bertahan di Mekkah untuk menjaga diri. Pada saat yang bersamaan, banyak penduduk Kufah mengirim surat kepada Husain, mengundangnya datang ke Kufah untuk memimpin mereka dan berjanji akan memberikan dukungan. 

    Pada awalnya, Imam Husain tidak langsung memenuhi undangan penduduk Kufah, sehingga penduduk kota Kufah di Irak bergejolak. Mereka mengirimkan ribuan surat berisi janji setia dan memohon agar Imam Husain bersedia datang ke Kufah untuk memimpin mereka melawan kekuasaan Bani Umayyah. Untuk memastikan kesungguhan mereka, Imam Husain mengutus sepupunya, Muslim bin Aqil, sebagai duta rahasia untuk menyelidiki keadaan dan memastikan kesungguhan dukungan masyarakat Kufah.

    Setibanya di Kufah, Muslim mendapat sambutan yang hangat. Gerakan bawah tanahnya berhasil mengumpulkan sekitar 18.000 sumpah setia penduduk setempat. Faktor utama keberhasilan ini adalah sikap gubernur Kufah saat itu, An-Nu'man bin Basyir, yang dikenal santun, warak, dan enggan menindak massa dengan tangannya sendiri. Merasa situasi telah aman, Muslim menulis surat kepada Imam Husain agar segera berangkat dari Madinah ke Irak. Surat inilah yang membuat Imam Husain memantapkan hati untuk berangkat memimpin rombongan kecilnya yang terdiri dari sekitar 80 orang, termasuk para wanita dan anak-anak.

    Melihat situasi Kufah yang mulai lepas kendali, Khalifah Yazid bertindak cepat. Ia mencopot An-Nu'man dan menunjuk gubernur Basrah, Ubaidillah bin Ziyad, yang terkenal kejam, untuk memegang kendali penuh atas Kufah. Ibnu Ziyad memasuki Kufah dengan wajah tertutup sorban untuk mengelabui rakyat. Awalnya, masyarakat Kufah menyambutnya dengan penuh sukacita karena mengira sosok tersebut adalah Imam Husain, sebelum akhirnya mereka menyadari bahwa dugaan tersebut keliru. Setelah mengetahui bahwa yang datang adalah Ibnu Ziyad, mereka mulai terkejut dan merasa ketakutan; kekhawatiran mereka seolah bercampur menjadi satu. Lalu, Ibnu Ziyad segera menebar ancaman dan taktik spionase militeristik yang ketat. Melalui mata-matanya yang bernama Ma'qal, Ibnu Ziyad berhasil melacak markas rahasia Muslim bin Aqil di rumah seorang tokoh bernama Hani bin Urwah.

    Hani bin Urwah ditangkap dan disiksa di istana. Mendengar kabar tersebut, Muslim bin Aqil keluar memimpin perlawanan bersama 4.000 pendukungnya untuk mengepung istana. Namun, Ibnu Ziyad menggunakan strategi perang urat saraf dengan cara menyebarkan rumor bahwa pasukan besar dari Syam (Suriah) sedang dalam perjalanan untuk menumpas mereka, Ia juga mengancam akan menghapus tunjangan Baitulmal bagi siapa saja yang membangkang. Taktik ini berhasil memicu ketakutan massal. Perlahan, penduduk Kufah mengkhianati Muslim dan melarikan diri. Begitu malam tiba, setelah memimpin salat Magrib, Muslim bin Aqil menoleh ke belakang dan mendapati dirinya benar-benar sendirian di tengah kegelapan malam.

    Muslim akhirnya dikepung di sebuah rumah warga, ditangkap, dan dibawa menghadap Ibnu Ziyad. Sebelum dieksekusi, Muslim sempat menangis. Ia menangis bukan karena meratapi nyawanya sendiri, melainkan memikirkan Imam Husain dan keluarganya yang saat itu sedang dalam perjalanan menuju jebakan maut. Muslim bin Aqil dan Hani bin Urwah akhirnya dipenggal, lalu jasad mereka dilemparkan dari atas atap istana gubernur.

    Sementara itu, dalam perjalanannya dari Makkah, Imam Husain terus mendapat nasihat dari para sahabat seperti Abdullah bin Zubair dan Abdullah bin Abbas agar membatalkan rencananya karna watak penduduk Irak yang suka berkhianat. Namun, keinginan Husain sudah bulat. Di tengah perjalanan, barulah beliau menerima kabar duka atas kematian Muslim bin Aqil beserta pengkhianatan massal yang terjadi. Kemudian, Husain mengumpulkan seluruh pengikutnya dan mengumumkan berita pahit tersebut. Beliau mempersilakan siapa saja yang ingin memisahkan diri untuk pergi. Akhirnya, hanya tersisa para sahabat dekat dan keluarga inti yang setia menemani Husain.

    Rombongan kecil Imam Husain akhirnya dihadang oleh pasukan Umayyah berkekuatan 1.000 penunggang kuda di bawah pimpinan Hurr bin Yazid. Hurr mengawal rombongan Imam Husain dengan sangat ketat hingga membawa mereka ke sebuah padang tandus bernama Karbala. Tak lama kemudian, datang bala bantuan berkekuatan 4000 prajurit baru yang dipimpin oleh Umar bin Saad bin Abi Waqqas. Sebenarnya, Umar didera dilema batin yang hebat karna ia tidak ingin memerangi cucu nabi. Namun, ia diancam akan kehilangan jabatan sebagai gubernur Ray (Persia) yang sangat ia dambakan. Pada akhirnya, ambisi duniawi mengalahkan hati nuraninya sehingga ia tetap memutuskan untuk memerangi cucu Nabi Muhammad tersebut.

    Atas perintah kejam dari Ibnu Ziyad, pasukan Umar bin Saad memutus total akses air minum Sungai Eufrat dari rombongan Husain, hingga wanita dan anak-anak didera dahaga yang sangat menyiksa. Husain sempat menawarkan beberapa opsi damai agar perang dapat dihindari. Awalnya, Umar bin Saad berniat menerimanya. Namun, hasutan keji dari Syamr bin Dzil Jausyan membuat Ibnu Ziyad menutup pintu damai dan menuntut Hussain menyerah tanpa syarat atau dibunuh.

    Pagi hari pada tanggal 10 Muharram 61 Hijriah, pertempuran yang sangat tidak seimbang itu meletus. Sesaat sebelum perang dimulai, Hurr bin Yazid mengalami tekanan batin yang hebat. Ia didorong oleh rasa penyesalan mendalam karena telah bersekutu dengan pasukan Umayah. Akhirnya, ia memutuskan untuk meninggalkan pasukan tersebut dan berlari ke arah perkemahan Imam Husain untuk memohon ampunan kepada cucu Nabi Muhammad SAW serta ikut bertempur membela beliau hingga menemui syahidnya.

    Tragedi Karbala adalah catatan kelam sekaligus monumen agung dalam sejarah peradaban Islam. Secara lahiriah militer, pasukan Umayyah memenangkan pertempuran di padang pasir tersebut. Namun secara moral, sejarah mencatat bahwa Imam Husain lah sang pemenang sejati. Penyesalan mendalam membayangi sisa hidup Yazid bin Muawiyah, yang kerap telah membuatnya dibenci oleh seluruh umat Islam. Meskipun darah telah kering di padang Karbala pada tahun 61 Hijriah, esensi perjuangan Imam Husain akan tetap hidup selamanya dalam sanubari umat manusia sebagai simbol abadi bahwa kebenaran tidak akan pernah bisa ditundukkan oleh kilatan pedang kezaliman.

Posting Komentar