Khat: Seni Menulis yang Menjadi Media Dakwah Islam
Oleh: Shafrina Cahya
Apa yang terbesit di pikiran kalian ketika mendengar kata kaligrafi? Seni tulisan indah atau ukiran tulisan? Kaligrafi secara etimologi terdiri dari dua kata dalam bahasa Yunani, yaitu kallos dan grapho atau graphein. Kallos artinya indah dan graphein berarti tulisan. Secara literal, arti kaligrafi adalah tulisan indah. Secara terminologi, kaligrafi adalah seni menulis indah yang menekankan bentuk huruf secara ekspresif, harmonis, dan terampil. Dalam bahasa Arab, kaligrafi biasa disebut dengan Khat.
Jika ditelisik secara bahasa, Khat merupakan istilah Arab yang bermakna garis atau tulisan tangan. Secara istilah, Khat adalah ilmu yang mempelajari anatomi huruf beserta cara merangkainya dengan kaidah tertentu. Syekh Syamsuddin al-Akfani dalam buku Irsyâd Al-Qôsid mengatakan bahwa ilmu Khat adalah ilmu yang dengannya diketahui bentuk huruf, baik ketika berdiri sendiri maupun bersambung dengan huruf lain. Dalam pengertian yang lebih filosofis, Ibrahim ibn Muhammad al-Syaibani mengatakan:
الخط لسان اليد و بهجة الضمير وسفير العقول ووصي القمر وسلاحه وأنس الألوان عند الفرقة ومحادثتهم على بعد
المسافة ومستودع الشر وديوان الأمور
Yang artinya: “Khat merupakan lidahnya tangan, kecantikan rasa, penggerak akal, penasihat pikiran, senjata pengetahuan, perekat persaudaraan ketika bertikai dan pembincang ketika berjauhan, pencegah segala keburukan dan khazanah berbagai masalah kehidupan.”
Dalam buku Târîkh Al-Khat Al-Arabî wa Adâbih, Muhammad Thohir bin Abdul Qodir Al-Kurdi mengatakan bahwa tidak ada yang dapat mengetahui secara pasti awal kemunculan tulisan. Tersebab, hal itu terjadi pada masa lampau yang tak dapat dilacak. Di sini, para sejarawan berselisih pendapat mengenai asal-usul Khat dan tulisan. Al-Qalqashandi dalam kitab Shubh al-A’sya mengatakan bahwa orang pertama yang menulis tulisan adalah nabi Adam as yang diwahyukan oleh Allah SWT. Perselisihan tersebut dicatat dalam buku-buku sejarah sehingga tidak perlu disebutkan di sini.
Adapun periodisasi kaligrafi arab adalah sebagaimana berikut:
Pada masa Rasulullah saw hingga Ali bin Abi Thalib, Khat hanya berbentuk tulisan sederhana yang ditulis di atas lembaran pelepah kurma. Nama tulisan pada waktu itu masih dinisbahkan kepada tempat penulisan, seperti Makki (Makkah), Madani (Madinah), Hijazi (Hijaz), dll. Pada abad ketujuh Masehi, seni kaligrafi mulai berkembang dengan adanya Al-Qur’an. Umat Islam mulai menyempurnakan dan mengembangkan tradisi tulis-menulis di kalangan masyarakat Arab sehingga terbentuklah bermacam gaya, bentuk, dan teknik menulis. Pada abad ini, tercipta seni Khat pertama yang dikenal dengan Khat Kufi. Sesuai namanya, Khat ini berasal dari Kufah, salah satu kota di Iraq.
Pada era khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq, Al-Qur’an mulai dibukukan. Pada era khalifah Ali bin Abi Thalib, Al-Qur’an mulai diberi harokat dan titik oleh Abul Aswad Ad-Du’ali. Di sinilah kaligrafi mulai berkembang. Tulisan diperlukan untuk menjaga Al-Qur’an dari kekeliruan. Cara penulisan pun disempurnakan sehingga orang-orang non-Arab dapat melafalkan Al-Qur’an secara baik dan benar. Khat turut hadir sebagai cara agar umat Islam tertarik untuk membaca dan mempelajari Al-Qur’an dengan gaya penulisan yang indah.
Pada masa Kekhalifahan Umayyah, ada rasa ketidakpuasan terhadap Khat Kufi yang dianggap terlalu kaku dan sulit untuk dieksplorasi, sehingga mulai muncul gaya kaligrafi baru yang tidak kaku. Terdapat tiga bentuk yang terkenal pada masa ini, yaitu Mudawwar, Mutsallats, dan Ti’im (variasi bundar dan segitiga).
Pada era Bani Abbasiyah, muncul para seniman kaligrafi populer. Salah satunya adalah Ibnu Muqlah. Ia terkenal karena menemukan cara geometrikal yang unik dengan kesatuan beberapa elemen, yaitu titik, alif, dan lingkaran. Kemudian, muncul Yaqut Al-Musta’simani yang menciptakan bentuk Khat baru, Khat yang bergaya lembut dan halus.
Pasca masa Bani Abbasiyah, kaligrafi terus mengalami perkembangan pesat. Pada negara Islam bagian barat, berkembang Khat Maghribi dan Kufi Barat. Dari Khat tersebut lahirlah cabang Khat lainnya. Perkembangan kaligrafi ini terus berjalan hingga abad ke-16 M. Perkembangan kaligrafi yang pesat ini tak luput dari beberapa faktor yaitu invasi kekuasaan Islam, peranan para raja dan ilmu sosial, serta pengaruh dan perkembangan ilmu pengetahuan yang kian cepat dan merata.
Demikian perkembangan Khat secara umum. Lantas, bagaimana Khat memengaruhi dakwah Islam pada zaman dahulu sampai sekarang?
Orang Arab terkenal akan daya ingatnya yang kuat. Media tulis dahulu sangatlah terbatas sehingga membuat mereka mempelajari hal baru dengan menyimpannya di dalam ingatan. Dengan begitu, ketika Islam masuk, tak sedikit sahabat yang merupakan bangsa Arab menghafal Al-Quran tanpa menuliskannya.
Metode tersebut berlangsung lama dan menjadi budaya mereka. Budaya tersebut masih berlangsung hingga menimbulkan rasa cemas bagi Khalifah Abu Bakr Ash-Shiddiq. Ketika masa kepemimpinannya, banyak umat Islam yang murtad. Oleh karenanya, umat Islam memerangi kaum murtad dalam perang yang dikenal dengan nama perang Riddah. Tak sedikit umat Islam yang syahid pada perang tersebut. Kebanyakan dari mereka adalah hafidz Al-Qur’an. Melihat hal tersebut, Abu Bakr menjadi cemas akan eksistensi Al-Qur’an kelak di masa mendatang. Ia khawatir generasi setelahnya tidak mengenal Al-Qur’an sebab eksistensinya ikut memudar bersamaan dengan syahidnya para hafidz.
Akhirnya, muncul kebijakan pembukuan Al-Qur’an sebagai upaya memelihara kitab suci tersebut. Selain itu, para muslimin muda juga diajari menuliskan ayat-ayat Al-Qur’an. Di sinilah kaligrafi mulai merasuki gaya penulisan ayat-ayat Al-Qur’an agar umat Islam tertarik mempelajari Al-Qur’an. Keindahan aksara yang ditorehkan menjadi salah satu bentuk dakwah Islam. Keindahan visual lewat corak Khat Arab menjadikan Al-Qur’an menarik untuk dipelajari. Pada periode Kekhalifahan Umayyah, kaligrafi bertransformasi menjadi media dakwah yang tak hanya ditulis pada lembaran kertas saja, tetapi juga pada bangunan, masjid dan monumen.

Posting Komentar