Mengulik Peradaban Tiongkok Kuno

Daftar Isi

 

konfusius

Oleh: Alfia Fariha Nurfajriyah

Konfusius bearsal dari bahasa Latin (Kung-Fu-Tse). Kung berarti marga, sedangkan Fu-Tse berarti seseorang yang dihormati. Ia lahir di kota Tsu pada tahun 155 sebelum Masehi, dan berasal dari keluarga bangsawan yang bernama Keluarga Tsou. Pada abad ke-11 sebelum Masehi, kepala keluarga mereka, yang lahir lima abad sebelum lahirnya Konfusius, adalah Fu Di Sung.

Ayahnya bernama Shu-Liang-He. Ia menikah tanpa dikaruniai seorang anak. Ketika itu, ia menjadi penguasa kota Tsou. Ketika usianya tujuh puluh tahun, Shu-Liang-He menikah lagi. Dari pernikahan inilah ia dikaruniai seorang anak laki-laki yang kemudian diberi nama Konfusius, sebagai harapan agar dapat menjaga warisan leluhurnya dan dapat mengangkat martabat keluarganya.

Akan tetapi, sebelum Konfusius genap berusia tiga tahun, ayahnya meninggal dunia. Ia meninggalkan keluarganya dalam keadaan sulit. Untungnya, status kebangsawanan keluarganya menjadikan ibunya tidak kewalahan dalam merawat anaknya.

Konfusius menikah di usia sembilan belas tahun. Sayangnya, pernikahan itu tidak berlangsung lama. Beberapa tahun setelah menikah, ia bercerai. Dari pernikahan ini, Konfusius dikaruniai seorang anak laki-laki dan perempuan.

Setelah menikah, Konfusius diangkat sebagai pengawas di salah satu kantor pertanian. Akan tetapi, Konfusius menolaknya karena tidak sesuai dengan kedudukan dan bakatnya. Namun, karena tuntutan hidup, ia akhirnya menerimanya. Tak lama setelah itu, Konfusius berpindah menjadi guru karena meyakini bahwa itu jalannya yang paling sesuai. Dari perjalanan tersebut, ia dapat memenuhi kebutuhan keluarganya. Kemudian, ia diangkat menjadi guru di kota Lu. Di sana, ia mengajar dan menyebarkan akhlak mulia.

            Rumahnya sangat sederhana dan menjadi tempat ilmu yang indah di kota tersebut. Semua orang yang datang kepadanya terpesona pada kebijaksanaanya. Ia menggambarkan perjalanan hidupnya dalam kitab Lun-Yu. Pada usia kelima belas tahun, Konfusius mencurahkan seluruh perhatiannya untuk belajar. Dan pada usia tiga puluh tahun, ia menjadi seorang yang teguh pendirian. Pada usia empat puluh tahun, ia tidak lagi memiliki keraguan. Pada usia kelima puluh tahun, ia dapat memahami kehendak Tuhan. Pada usia enam puluh tahun, pendengarannya menjadi peka sehingga memahami perktaan yang ia dengar, dan pada usia tujuh puluh tahun segala keinginan hatinya berjalan tanpa melanggar satu pun kaidah akhlak.

            Konfusius dikenal sebagai sosok yang ramah dan rendah hati. Ia juga memiliki beberapa buku yang terbagi menjadi dua bagian utama: bagian pertama yang merupakan kitab suci Tiongkok Kuno yang telah diteliti dan diberi penjelasan olehnya, di antaranya : Shu-Jing, Shi-Jing dan Yi-Jing. Bagian kedua disusun oleh muridnya seperti kitab Lun-Yu, kitab ini menjadi dasar ajaran filsafatnya.

Pada tahun 525 sebelum Masehi, ia pergi ke kota Lahuo-Tsuosiyah untuk menyempurnakan pengetahuannya dengan mempelajari arsip kerajaan. Setelah tinggal di kota tersebut selama satu tahun, ia kembali ke negerinya. Pada tahun 517 sebelum Masehi, terjadi perang saudara antara pembesar kerajaan yang mengakibatkannya dipecat dan dipindahkan ke wilayah lain. Mereka memilih pemimpin baru untuk menggantikan Konfusius.

Setelah menetap selama lima belas tahun di wilayah tersebut, Konfusius kembali ke negerinya. Saat itu, keadaan di sana telah berubah menjadi lebih baik. Kemudian, Konfusius diangkat sebagai pengelola tertinggi kota Suzhou. Konfusius melaksanakan gagasan-gagasan pembaharuannya di sana. Masa itu, disebut-sebut oleh para sejarawan sebagai kemajuan.

Kemajuan di kota itu serta perilaku moral yang berkembang mendorong para penguasa kota-kota lain menjadikannya sebagai teladan. Bahkan, kota Lu bertanya kepada Konfusius, “Apakah mungkin menerapkan aturan-aturan pemerintahannya di seluruh negeri?” Konfusius menjawab singkat "Iya.” Ia kemudian diangkat sebagai wakil menteri kehakiman, kemudian menjadi menteri kehakiman. Belum lama memegang jabatan itu, kejahatan di seluruh kerajaan berhenti, dan penerapan hukuman pidana tidak lagi diperlukan, karena di negeri itu tidak ada lagi pelaku kejahatan yang pantas dijatuhi hukuman.

Pada masa pemerintahan Konfusius, kerajaan mengalami kemajuan besar dalam bidang moral, pembangunan, dan politik. Zaman itu dikenal dengan kemakmuran dan kebahagiaan. Bersama sahabatnya, Zisi dan Yan Hui, yang saat itu memegang dua jabatan penting dalam pemerintahan, ia berhasil memperkuat kekuasaan para penguasa dan melemahkan kekuatan keluarga-keluarga bangsawan yang memberontak. Dengan demikian, keamanan dan ketenteraman tersebar di seluruh negeri.

Konfusius mengundurkan diri dari pemerintahan pada tahun 496 sebelum Masehi. Ia berharap agar raja mendengarkan nasihatnya. Namun, raja lebih sibuk menikmati hiburan dan kesenangan sehingga tidak lagi memperhatikan urusan negara. Karena nasihatnya tidak dihiraukan, Konfusius memilih mengundurkan diri. Ia mengembara ke berbagai negeri selama sekitar tiga belas tahun.

Setelah keluar dari pemerintahan, ia berpindah-pindah dari satu negara ke negara lain. Di mana pun ia datang, Konfusius disambut dengan hormat. Akan tetapi, hampir tidak ada raja yang benar-benar mau menerapkan ajaran dan nasihatnya. Oleh karena itu, hal ini membuatnya sedih. Kemudian, ia kembali ke negara Lu pada usia enam puluh sembilan tahun. Raja baru menyambutnya dengan penuh penghormatan.

Meskipun Konfusius tidak lagi diberi kesempatan untuk mengatur pemerintahan, masa tuanya dipenuhi kesedihan. Ia kehilangan putra kesayangannya dan juga murid-murid terbaiknya. Walaupun mengalami berbagai musibah, ia tidak menyerah. Konfusius menghabiskan sisa hidupnya untuk menyusun kitab-kitab kuno, menyalin, menyusun, dan menjaga kitab-kitab suci serta karya-karya yang menjadi sumber penting filsafat Tiongkok. Ia wafat pada hari kesebelas bulan keempat tahun 478 sebelum Masehi. Konfusius dinyatakan wafat setelah menderita sakit selama sebelas hari.


Posting Komentar