Untaian Hikmah Perdamaian dalam Muallaqot Zuhair Bin Abi Sulma
Oleh: Dzulfahmi Alhirots FZI
Hikmah merupakan hal yang berharga, apalagi jika datang dari orang orang yang telah merasakan pahit dan manis nya dunia ini. Mutiara indah bak permata yang menghiasi serta mengubah hidup seseorang kepada hal yang lebih baik.
Salah satu penyair yang banyak melantunkan hikmah adalah Zuhair bin Abi Sulma, seorang penyair yang duduk sejajar dengan Umru’ul Qais dan an-Nabighah Adz-Dzubyani. Beliau juga di kenal dengan as-Syâ’ir as-Salâm, yakni Penyair Kedamaian. Kasidahnya yang dicantumkan dalam Mu’allaqât adalah salah satu yang mengandung banyak hikmah. Di akhir kasidah, Zuhair bin Abi Sulma melantunkan kalam hikmah yang penuh makna.
سئمت تكاليف الحياة, ومن يعش # ثمانين حولا,لا أبالك يسأم
(Aku telah bosan dengan beba-beban hidup, dan barang siapa yang hidup sampai delapan puluh tahun, sungguh pasti, akan bosan)
Seorang pria berusia 80 tahun bergumam tentang kebosanannya dengan beban-beban hidup, bukan pada hidup itu sendiri. Tuntutan akan memikul kesulitan, tuntutan menjaga wibawa dan kehormatan bagi orang mulia, berbagai pengorbanan dan usaha demi kehidupan yang diingin-inginkan semua orang.
Zuhair bin Abi Sulma memulai bait nya dengan kata (سأم) dan mengakhiri nya dengan kata yang sama. Dengan demikian itu yang berada di antara dua kata ini menjadi penegasan terhadap syair Zuhair bin Abi Sulma. Dalam bait ini juga terdapat (جملة اعتراضية) kalimat sisipan yaitu (لا أبالك) meskipun terjemahan harfiahnya “Tidak ada ayah bagimu” tetapi maksud sebenarnya adalah untuk mempertegas ucapannya.
رأيت المنايا خبط عشواء من تصب # تمته ومن تخطئ يعمر فيهرم
(Aku melihat kematian itu laksana hantaman unta buta tiada berarah, siapa yang kena akan mati, dan siapa yang lolos darinya akan panjang umur hingga ia menjadi tua renta)
Kematian itu datang tanpa pandang bulu dan tampak acak. Bagaikan unta buta yang berjalan di tengah gelapnya malam, melangkah dengan asal, tidak peduli apa yang ada di depannya. Sungguh orang yang sudah tua renta, mereka hanya belum mendapatkan giliran. Kematian itu pasti datang kapan pun dan di mana pun, maka persiapkan lah dirimu sebaik mungkin.
Disini Zuhair bin Abi Sulma mendatangkan permisalan yang dekat dengan pendengarnya,yakni bangsa Arab. Kalimat yang bagus itu datang ketika menyesuaikan dengan keadaan pendengarnya. Zuhair menggunakan (تشبيه بليغ) yakni permisalan sempurna tanpa adanya bantuan kata “seperti” dan semisalnya. Permisalan ini mendatangkan imajinasi yang lebih kuat di telinga pendengar.
وأعلم ما في اليوم والأمس قبله # ولكنني عن علم ما في غد عمي
)Aku mengetahui apa yang terjadi hari ini dan hari sebelum nya, akan tetapi aku benar benar buta untuk mengetahui apa yang akan terjadi esok hari(
Apa yang terjadi esok hari tidak mungkin kita bisa mengetahuinya, tetapi kita bisa melakukan yang terbaik hari ini dan memetik pelajaran di hari yang lampau. Jangan sampai terbebani dengan pikiran akan masa depan, tapi jadikan masa depan itu target yang dicapai dengan usaha hari ini.
ومن لا يصانع - في أمور كثيرة - # يضرس بأنياب, ويوطأ بمنسم
(Barangsiapa yang tidak mau bertoleransi dalam banyak urusan, niscaya ia akan digigit dengan taring dan diinjak dengan kaki unta)
Manusia itu adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Tidak ada manusia yang benar-benar bisa hidup sendiri di muka bumi. Oleh karena, itu hubungan dengan manusia perlu dijaga. Saling berbagi dan saling tolong-menolong dapat memperat hubungan tersebut. Jika tidak, ia akan di kucilkan bahkan dicelakai oleh manusia lainnya.
ومن يك ذا فضل, ويبخل بفضله # على قومه, يستغن عنه, و يذمم
(Barangsiapa yang memiliki kelebihan lalu enggan berbagi pada kaumnya, niscaya dia akan di tinggalkan dan dicela)
Ini adalah kelanjutan dari bait sebelumnya. Semua manusia diberi kelebihannya masing-masing. Pada hakikatnya manusia tidak pernah puas terhadap kenikmatan yang didapatkan. Kebanyakan manusia berat tangannya untuk memberi padahal memiliki kemampuan. Orang-orang seperti ini lah yang juga akan ditinggalkan serta direndahkan oleh manusia lainnya. Penyair memperingati kita agar tidak melakukan hal yang semisal jika ditakdirkan memiliki kelebihan tersebut.
Disini, penyair tidak menggunakan diksi (ذا مال) tapi menggunakan (ذا فضل) sehingga tidak hanya mencakup harta tapi juga ilmu, kuasa, pandangan dll. Zuhair menekankan bahwa ini semua tidak boleh dipendam dan disimpan sendiri. Tapi semua itu hendaknya dibagikan manfaatnya kepada seluruh insan manusia.
ومن يجعل المعروف من دون عرضه # يفره, ومن لا يتق الشتم يشتم
(Barangsiapa yang menjadikan kebaikannya sebagai pelindung kehormatannya, niscaya kehormatan itu akan menjaganya, dan barangsiapa yang tidak menjaga diri dari cercaan, niscaya ia akan dicerca)
Setelah mengajak untuk berbagi dan menyebarkan kebaikan, penyair menasehati akan pentingnya niat dari kebaikan tersebut. Kebaikan tidak akan menjadi kebaikan jika didasari oleh hal yang salah. Malahan, kebaikan tersebut akan menjadi bumerang baginya.
Meskipun begitu, tidak menampakkan keburukan kita dan berusaha untuk menutupinya adalah sebuah keharusan. Semua manusia tidak terlepas dari kesalahan dan keburukan. Oleh karena itu, ada baiknya melakukan hal tersebut demi menjaga kehormatan kita.
Kedua hal tadi memang membahas tentang kehormatan dari dua sisi yang berbeda. Tapi begitulah seharusnya, keseimbangan antara dua hal tersebut harus dipertahankan.
ومن لا يذد عن حوضه بسلاحه # يهدم, و من لا يظلم الناس يظلم
(Barangsiapa yang tidak mempertahankan telaganya dengan senjatanya, niscaya akan dihancurkan. Dan barangsiapa yang tidak menzalimi manusia, maka ia akan dizalimi)
Bait ini melambangkan kehidupan zaman Jahiliyyah, dimana hak dan harta kita tidak dilindungi dan di jamin oleh seseorang maupun negara, melainkan kita yang melindunginya dengan tangan kita sendiri. Lalu kalimat berikutnya tidak menyuruh kita untuk berbuat zalim kepada manusia lainnya, tapi menggambarkan bahwa kita harus menampakkan taring serta tidak bersikap banyak celah sehingga diserang oleh orang lain terlebih dahulu. Bait ini adalah anjuran untuk menjaga hak serta harta dengan segenap tenaga.
Disini penyair menggunakan kata (حوض) yang bermakna telaga atau tempat muncul air untuk menggambarkan makna hak dan harta tadi. Air adalah sumber kehidupan manusia sehingga kehilangan telaga tersebut akan menyebabkan kematian bagi yang tidak bisa memilikinya, sehingga menjaga dan mempertahankannya adalah sebuah keharusan.
ومن هاب أسباب المنايا ينلنه # ولو نال أسباب السماء بسلم
(Barangsiapa takut akan penyebab-penyebab kematian, kematian itu pasti akan menjemputnya, walau dia melarikan diri menaiki tangga ke langit)
Sebagaimana yang sudah disebutkan sebelumnya, kematian itu datang secara tiba-tiba tanpa pandang bulu. Meskipun begitu, tidak banyak manusia yang takut akan datangnya kematian tersebut sehingga mereka mencoba mengamankan diri meski harus melakukan hal yang mustahil. Ingatlah bahwa kematian itu pasti akan datang dan menjemput. Bait ini mengingatkan kita kembali akan ketakutan manusia terbesar tidak bisa di cegah dengan cara apapun.
ومن يعص أطراف الزجاج فانه # يطيع العوالي ركبت كل لهذم
(Barangsiapa yang menolak bagian pangkal tombak, maka dia akan terpaksa tunduk pada bagian ujung tombak atas yang dipasangi mata tombak yang sangat tajam)
Tombak merupakan salah satu senjata yang digunakan untuk berperang. Tombak memiliki sisi yang tajam dan sisi yang tumpul. Dahulu orang orang pada zaman Jahiliyyah jika ingin menyatakan perang, mereka meletakkan ujung tombak ke atas. Sebaliknya, jika mereka ingin menyatakan perdamaian, mereka meletakkan sisi yang tumpul ke atas. Siapa yang tidak menerima perdamaian, maka peranglah yang akan memaksa. Sayangnya penyair kita sudah Lelah melihat perang yang silih berganti selama hidupnya. Tidakkah bisa semua orang berdamai?
Penyair memberikan keterangan tambahan di saat menjelaskan ujung tombak sebagai lambang peperangan. Keterangan ini menjelaskan maksud penyair untuk menakut-nakuti pendengar agar tidak memilih jalur peperangan dan memilih perdamaian.
ومن يوف لا يذمم, ومن يفض قلبه # الى مطمئن البر لا يتجمجم
(Barangsiapa yang menepati janji tidak akan dicela, dan barangsiapa yang hatinya merasa tenang dalam kebaikan yang murni tidak akan ragu ragu untuk melaksanakannya)
Tidak sedikit orang yang tidak menepati janjinya, maka celaanlah yang pantas bagi mereka. Menepati janji juga merupakan cara agar kita di terima di masyarakat. Maka peganglah erat erat janji tersebut.
Tidak semua kebaikan itu berakibat baik. Sebuah kebaikan yang didasari niat yang salah malah akan memberikan dampak yang sebaliknya. Tetapi jika niat itu murni dan tulus, yakinlah pada dirimu sendiri dan sebarkan kebaikan itu.
ومن يغترب يحسب عدوا صديقه # ومن لا يكرم نفسه لا يكرم
(Barangsiapa yang mengasingkan diri niscaya dia akan menjadikan musuh sebagai teman, dan barangsiapa yang tidak menghargai dirinya sendiri, niscaya dia tidak akan dihargai)
Di saat orang orang mengasingkan diri dari keluarga dan tanah kelahirannya, mereka cenderung akan berteman dengan orang orang yang menjadi musuh baginya karena sedikitnya kabar dan informasi yang dimiliki. Bait ini juga menerangkan untuk memiliki informasi serta memilah-milih siapa yang akan kita jadikan teman, karena tidak semua teman itu baik.
Banyak orang orang menginginkan kehormatan serta pengakuan dari orang lain tapi tidak banyak yang memantaskan dirinya untuk hal tersebut. Bagaimana orang lain akan menghargaimu jika kamu sendiri tidak menghargai dirimu sendiri?
ومهما تكن عند امرئ من خليلقة # وان خالها تخفى على الناس تعلم
(Bagaimanapun karakteristik atau tabiat yang di miliki oleh seseorang, meskipun tabiat itu tersembunyi dari manusia, niscaya suatu saat akan diketahui juga)
Banyak tabiat manusia yang udah di bahas sebelumnya, baik yang baik maupun yang buruk. Meskipun kita berusaha untuk menyembunyikannya, tabiat tersebut pada akhirnya akan diketahui juga. Jadi latihlah dan pertahankan untuk tetap bersikap baik kepada sesama makhluk hidup.
ومن لا يزل يستحمل الناس نفسه # ولم يغنيها يوما من الناس يسأم
(Dan barangsiapa yang terus menerus membebankan dirinya kepada orang lain tanpa pernah memberikan kecukupan bagi dirinya sendiri dari manusia, niscaya mereka akan merasa bosan kepadanya)
Bait ini menjadi penutup dari seluruh kasidah Zuhair. Bait ini menerangkan tentang sejarah bahwa seluruh kaum pada masa itu membebankan Harits dan Haram pada diri mereka dalam rangka perdamaian perang yang telah berlangsung lama.
Zuhair bin Abi Sulma sebagai penyair disini menyampaikan kepada kita perjalanan hidupnya yang dipenuhi dengan perang. Tak kuasa melihat pemandangan ini, ia menasehati kita untuk meninggalkan peperangan dan menguatkan perdamaian. Menjadi bagian Masyarakat yang baik termasuk dalam rangka menjaga perdamaian. Menghargai serta menjaga diri sendiri juga termasuk dalam rangka menjaga perdamaian. Kematian pasti akan datang tanpa pandang bulu, maka persiapkanlah diri masing masing untuk menghadapi kematian yang akan datang. Tidak heran lah Zuhair bin Abi Sulma ini di juluki dengan penyair perdamaian.

Posting Komentar