Menyelisik Lorong Waktu Melalui Usbu' Adab wa Tarikh
Oleh: Hasna Azkia Rosyada
Grand Opening: Bincang Sejarah dan Sejarah
Usbu' Adab wa Tarikh merupakan program tahunan yang diadakan oleh Senat Mahasiswa Fakultas Bahasa Arab (SEMA FBA) Mesir. Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mengenal lebih dekat kekayaan sastra dan sejarah, serta memahami keduanya sebagai bagian dari kehidupan. Pada tahun ini, Usbu' Adab wa Tarikh menghadirkan empat rangkaian agenda utama, antara lain:
Grand Opening: Bincang Sastra dan Sejarah
Rihlah Tarikhiyyah
Rihlah Adabiyyah
Grand Closing: Mimbar Cendekia dan Galeri Kehormatan
Empat rangkaian agenda tersebut diadakan secara terpisah pada hari yang berselang-seling, tepatnya pada tanggal 7, 9, 11, dan 13 Agustus. Agenda pertama, yakni Grand Opening Usbu' Adab wa Tarikh sekaligus Bincang Sastra dan Sejarah, dilaksanakan pada hari Jumat, 7 Agustus 2026, di Cafe Zone Gamaliya. Pembawa acara membuka kegiatan Grand Opening Usbu' Adab wa Tarikh pada pukul 18.33 WLK. Acara dilanjutkan dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an dan penyampaian sambutan-sambutan.
Sambutan pertama disampaikan oleh Ketua Pelaksana Usbu' Adab wa Tarikh, Ghiyast Hamdi. Sebelum memberikan sambutan, ia memperkenalkan jargon Usbu' Adab wa Tarikh yang berbunyi, "Satu Pekan, Sejuta Inspirasi." Jargon ini tidak hanya berfungsi memantik semangat para peserta, tetapi juga mengandung makna mendalam. Kegiatan yang berdurasi sepekan ini diharapkan mampu memuat banyak inspirasi tentang sastra dan sejarah dari berbagai sumber, mulai dari bincang sastra dan sejarah hingga riyalah ke tempat-tempat yang berkaitan dengan kedua hal tersebut. Acara dilanjutkan dengan sambutan dari Ketua Umum SEMA FBA, Fathin Fadlullah.
Selanjutnya, pembukaan Usbu' Adab wa Tarikh ditandai dengan seremoni pemotongan pita oleh Ketua Umum SEMA FBA, Ketua 2 SEMA FBA, Ketua Dewan Fraksi SEMA FBA, dan Ketua Pelaksana Usbu' Adab wa Tarikh.
Memasuki acara inti, dilaksanakan Gelar Wicara Sejarah: Peran dan Posisi Sastra sebagai Sumber Sejarah oleh Muhammad Asyaf Gemarikza yang dipandu oleh moderator. Moderator membuka acara inti dengan melantunkan tembang—sebuah karya sastra Indonesia berupa puisi Jawa—yang dirangkai sendiri dengan judul "Budaya Layaknya Alunan Tarian". Acara kemudian dilanjutkan dengan sesi bincang-bincang bersama pemateri.
Pada sesi ini, pemateri memberikan pemaparan mengenai sejarah karya sastra di Indonesia, pembagian sumber sejarah, cara penyajiannya, serta aspek-aspek yang mendukung pengolahan informasi sejarah. Acara diselingi dengan sesi tanya jawab dan kuis oleh pemateri, kemudian dilanjutkan dengan salat Magrib berjemaah dan sesi bincang-bincang bersama pemateri kedua.
Pemateri kedua, Achmad Ibn Ibad, membawakan materi bertajuk Sejarah Naqd: Mengulik Historis Kritik Sastra Arab. Banyak materi berharga yang disampaikan sebelum akhirnya rangkaian acara ini ditutup oleh pembawa acara dengan kuis singkat dan foto bersama pada pukul 22.28 WLK.
Rihlah Tarikhiyyah; Mengulas Sejarah di Prince Mohamed Ali Palace
Agenda kedua dari program Usbu' Adab wa Tarikh adalah Rihlah Tarikhiyyah. Rihlah Tarikhiyyah sendiri merupakan program yang bertujuan untuk mengunjungi tempat-tempat bersejarah yang ada di Mesir, selain kunjungan, Rihlah Tarikhiyyah juga mengajak para peserta untuk memahami sejarah dari tempat tersebut. Pada tahun ini kunjungan sejarah Rihlah Tarikhiyyah bertempat di Prince Mohamed Ali Palace.
Pada hari Minggu, 9 Agustus 2026, peserta diminta untuk berkumpul di Barakat, Gamaliya, pada jam 09.00 WLK. Lalu dilanjut menaiki tremco bersama panitia menuju lokasi utama. Namun, acara kemudian diundur karena menunggu peserta dan panitia yang belum berhadir. Para peserta dan panitia yang sudah datang menunggu di depan gerbang Prince Mohamed Ali Palace. Panitia kemudian mengurus tiket masuk dengan mengumpulkan kerneh para peserta.
Setelah berhasil melewati gerbang pemeriksaan barang pada jam 10.49 WLK, peserta kemudian diarahkan untuk mendengarkan muqaddimah dari perwakilan panitia kegiatan Rihlah Tarikhiyyah. Sebelumnya ia meminta maaf kepada peserta atas keterlambatan acara.
Setelahnya ia mengutip perkataan Bapak Sejarah, Herodotus, yang berbunyi "Egypt is the gift of the Nile" Yang mana banyak peradaban yang tumbuh dari lembah sungai Nil, salah satunya masuknya wilayah Mesir kedalam kekuasaan Islam. Bahkan dalam periodisasi sejarah Islam di Mesir sendiri cakupannya sangat luas. Oleh karenanya, panitia sengaja memilih satu topik, yaitu Ottoman Empire. Selanjutnya sesi pemaparan materi dari pemateri utama, Muhammad Haikal Kamal.
Di sesi awal, beliau menjelaskan tentang periodisasi Mesir. Periode pertama adalah periode Mesir Kuno, menceritakan tentang Fir'aun, Cleopatra, dan sebagainya. Yang kedua, periode Mesir Bizantium, yaitu era kekuasaan Romawi Timur terhadap Mesir. Yang ketiga adalah periode Mesir Islam. Pemaparan materi dilanjut oleh dua orang banin jurusan Tarikh wa Hadarah yang mengikuti program GRANADA dari Senat FBA. Banin pertama menjadi pengantar materi dan menjelaskan bagaimana awal mula lahirnya Ottoman, dilanjut oleh banin kedua yang menjelaskan bagaimana peninggalan-peninggalan Ottoman bisa sampai ke Mesir.
Selanjutnya, peserta diarahkan menuju bangunan pertama yaitu سراي الإقامة (Sarayal Iqamah) atau istana tempat tinggalnya amir untuk melihat serta memotret bagian dalam istana. Dan untuk pemaparan materi diberikan diluar ruangan setelah peserta selesai melihat bagian dalam istana. Dikarenakan tata ruang bangunan yang kecil, sesi ini dibagi menjadi dua kloter, kloter pertama giliran peserta banat, dan dilanjut peserta banin. Di istana ini terdapat beberapa kamar yang dikhususkan untuk perempuan, terdapat juga ruang makan, perapian, serta ruang kumpul keluarga, dan lantai dua istana ini digunakan sebagai kamar pribadi. Bagian dinding dalam istana ini didominasi oleh warna biru dan merah yang menjadi simbol Ottoman.
Setelah selesai melihat-lihat istana amir, pemateri kembali memaparkan materi mengenai amir yang dimaksud disini. Ternyata beliau adalah Mohammed Ali Tewfik, putra kedua dari Tewfik Pasha yang merupakan keturunan dari Muhammad Ali Pasha. Dilanjut kunjungan ke bangunan kedua yaitu سراي العرش (Istana Tahta). Didalamnya terdapat lukisan-lukisan Para Penguasa Mesir dan di langit-langitnya terdapat lambang matahari yang menyimbolkan kekuasaan. Dan lantai dua bangunan ini digunakan sebagai ruang pertemuan musim dingin.
Kemudian peserta diarahkan menuju Masjid Qashr al-Manial yang berada di bagian depan kompleks istana ini untuk mendengar penjelasan terakhir. Kegiatan ini kemudian dilanjut dengan foto bersama. Selanjutnya peserta dan panitia dibolehkan untuk menjelajah sekitar lokasi dan mengambil foto mandiri selama 30 menit. Banyak peserta yang mengambil kesempatan ini untuk masuk ke Mathaf al-Shayd atau museum berburu yang berada tepat disamping Masjid Qashr. Museum ini berisi koleksi hewan-hewan yang telah diawetkan, ada juga yang berupa tulang belulang.
Setelah waktu habis, sekitar pukul 13.50 para peserta kemudian dikumpulkan dan diarahkan untuk pulang menuju Barakat menggunakan tremco.
Rihlah Adabiyyah; Museum Ahmad Syauqi ; Destinasi Edukatif Rihlah Adabiyah Pada Acara Usbu’ Adab wa Tarikh
Agenda ketiga dari rangkaian kegiatan Usbu' Adab wa Tarikh adalah Rihlah Adabiyyah. Berbeda dari agenda sebelumnya (Rihlah Tarikhiyyah) yang berfokus pada situs-situs sejarah umum, Rihlah Adabiyyah berfokus pada eksplorasi dan studi literasi sastra. Pada tahun ini, Rihlah Adabiyyah mengajak para peserta untuk berkunjung ke Museum Ahmad Syauqi (Karmat Ibn Hani') yang berlokasi di kawasan Giza, Mesir.
Pada hari Selasa, 11 Agustus 2026, para peserta dan panitia berkumpul di Barakat, Gamaliya, pada pukul 09.00 WLK, sebelum akhirnya berangkat bersama-sama menuju lokasi museum menggunakan transportasi umum. Sesampainya di lokasi pada pukul 10.30 WLK, seluruh peserta berkumpul di halaman museum untuk mendengarkan pengantar singkat dari panitia mengenai rekam jejak Ahmad Syauqi—seorang penyair besar Arab yang dijuluki sebagai Amir al-Syu'ara' (Pangeran Para Penyair).
Acara dilanjutkan dengan pemaparan materi utama oleh Achmad Ibn Ibad. Pemateri mengulas sejarah kehidupan Ahmad Syauqi, kontribusinya dalam pembaruan puisi Arab modern, hingga pengaruh karya-karyanya terhadap perkembangan sastra Arab klasik dan kontemporer. Usai sesi pemaparan dan diskusi interaktif, para peserta diarahkan untuk memasuki area interior museum yang dahulu merupakan kediaman pribadi sang penyair.
Di dalam museum, para peserta berkesempatan melihat secara langsung berbagai koleksi peninggalan bersejarah, seperti naskah puisi asli tulisan tangan Ahmad Syauqi, perpustakaan pribadi yang menyimpan ribuan pustaka langka, perabot rumah tangga bergaya klasik, hingga deretan penghargaan internasional dan medali kehormatan yang pernah diraihnya. Selain itu, terdapat pula patung perunggu sang penyair yang megah serta ruang kerja tempat ia melahirkan karya-karya fenomena alnya.
Seluruh peserta memanfaatkan kesempatan ini untuk mencatat informasi penting, berdiskusi mengenai estetika karya sastra Arab, serta berswafoto di sudut-sudut museum yang kaya nilai artistik. Rangkaian kegiatan Rihlah Adabiyyah ini diakhiri dengan sesi foto bersama di area taman museum pada pukul 13.30 WLK, sebelum seluruh rombongan bertolak kembali ke tempat asal.
.jpg)
Posting Komentar