Kajian Sejarah Orisinilitas Syair Jahili

Daftar Isi

Kajian sejarah Orisinilitas Syair Jahiliiy


Oleh: Muhammad Irsyaad

1926 merupakan tahun yang menjadi salah satu titik balik pergejokan sejarah intelektual Arab modern. Sebuah karya kontroversial sukses menyulut emosi intelektual saat itu. Pemikiran ini tertuang dalam sebuah buku berjudul Fi al-Syi'ri al-Jahili karya Taha Husein, seorang sastrawan, pemikir, dan pembaharu dari Mesir.

Gejolak ini bermula dari sebuah gagasan Taha Husein yang dikenal dengan istilah Intihal al-Syi'ir al-Jahili atau Plagiarisme Syair Jahiliyah. Dalam bukunya, Taha Husein memberikan gagasan bahwa sebagian besar syair-syair Arab Jahiliyah bukanlah benar-benar berasal dari masa Jahiliyah itu sendiri, melainkan dikarang setelah zaman Islam untuk kepentingan tertentu. Gagasan inilah yang akhirnya menjadi perhatian para intelektual dan mendapat banyak kritik.

Definisi Intihal

Untuk memahami lebih lanjut tentang gagasan Taha Husein, kita awali dengan sebuah pertanyaan dasar, Apa itu Intihal? Secara bahasa, Intihal berasal dari kata Nahala. Dalam al-Qamus al-Muhith, Nahala bermakna menisbatkan, mengklaim, atau memberikan sesuatu.  Lalu, makna ini bergeser setelah dipindahkan ke dalam wazan ifti’al sehingga bermakna tindakan mengklaim sesuatu yang merupakan milik orang lain untuk diri sendiri secara sepihak. Maka dapat disimpulkan, penggunaan kata intihal oleh Taha Husein dalam karyanya membawa makna bahwa syair Arab Jahiliyah yang sampai kepada kita merupakan syair yang diciptakan oleh orang-orang dari masa Islam demi tujuan tertentu. Di sisi lain, Intihal disini juga bisa dimaknai dengan pemalsuan syair yang disengaja yang dilakukan demi mencapai tujuan tertentu.

Dengan kata lain, Taha Husein menganggap bahwa syair-syair Jahiliyah hari ini sebagian besar merupakan hasil rekayasa teks era Islam yang diberi label Jahiliyah, sehingga syair-syair ini lebih tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat pasca-Islam daripada penghambaran  kondisi masyarakat jahiliyah itu sendiri.

Gagasan seperti ini tentu tidak lahir begitu saja. Diketahui bahwasanya Taha Husein bukanlah tokoh pertama yang mengemukakan gagasan ini. Sebelum ia, terdapat beberapa tokoh yang sudah menyinggung tentang intihal, di antaranya Ibnu Sallam al-Jumahi, pemilik karya Tabaqat asy-Syu’ara, Margoliouth, pemilik karya The Origin of Arabic Poetry, dan Mustafa Shadiq ar-Rafi’I dengan karyanya Tarikh Adab al-Arabi. Masing-masing tokoh ini sama-sama menyinggung permasalahan intihal Syiir Jahili dalam karya mereka.

Intihal Menurut Ibnu Sallam

Ibnu Salam al-Jumahi dalam karya at-Tabaqat asy-Syu’ara mengakui keberadaan adanya puisi palsu dalam ruang lingkup Jahiliyah. Menurut Ibnu Salam, ada beberapa aspek utama dalam pemalsuan, diantaranya adalah fanatisme kesukuan dan munculnya para perawi pemalsu syair untuk tujuan tertentu seperti kebutuhan politik.

Dalam permasalahan fanatisme kesukuan, ketika suku-suku Arab meninjau ulang sejarah kejayaan mereka, sejarah ini direkam dalam syair-syair yang mengabarkan tentang kehebatan mereka di masa lalu. Semakin banyak sebuah syair, semakin terpandang juga sebuah suku. Akhirnya hal ini melahirkan rasa iri dan dorongan untuk merekayasa syair lalu menisbatkan syair palsu tersebut kepada leluhur mereka, agar mendapat pengakuan dan dianggap terhormat martabat mereka oleh suku lainnya.

Namun, Ibnu Sallam juga menegaskan walaupun ada pemalsuan syair Jahili, para ulama bahasa terkemuka, seperti Abu Amr bin al-Ala, al-Asma’i, al-Mufaddhal dan Khalil bin Ahmad, tetap akan bisa membedakan, menyaring dan memisahkan mana puisi yang asli dan yang palsu. Di sini al-Jumahi mengakui adanya pemalsuan sebagian syair Jahili dengan motif fanatisme kesukuan.

Selanjutnya, konsep yang diusung oleh Margoliouth. Margoliouth dengan nama lengkap David Samuel Margoliouth dalam karyanya yang berjudul The Origin of Arabic Poetry menyampaikan bahwa puisi-puisi jahiliyah saat ini adalah buatan masa Islam. Pendapat ini didukung oleh beberapa argumen. Di antaranya, pertama, tradisi masyarakat Jahiliyyah sendiri. Margoliouth mengklaim bahwa masyarakat Jahiliyyah tidak memiliki tradisi menulis dan hanya mengandal tradisi lisan, dan al-Qur’an tidak membuktikan keberadaan tradisi puisi tulisan para saat itu. Kedua, gaya bahasa puisi Jahiliyah terlalu sesuai dan seragam dengan gaya bahasa al-Qur’an dan puisi-puisi pasca-Islam. Hal inilah yang menjadi sebab ia menganggap bahwa puisi-puisi Jahiliyah dipengaruhi gaya bahasa al-Qur’an.

Teori Kartesian René Descartes

Kembali kepada sosok Taha Husein yang berdiri diantara para tokoh di atas dan sama-sama membahas permasalahan intihal. Lantas, kenapa Taha Husein menjadi sosok yang paling kontroversi dibanding tokoh-tokoh lain? Hal ini terjadi karena Taha Husein mengadopsi atau memakai sebuah pendekatan keraguan metodologis yang dikenal dengan nama Teori Kartesian.

Teori Kartesian merupakan sebuah teori yang diusung milik René Descartes, seorang filsuf dan matematikawan Prancis, yang dijuluki sebagai Bapak Filsafat Modern. Metode ini dipraktekkan dengan melakukan keraguan secara radikal terhadap suatu permasalahan, tidak menerimanya sebelum terbukti secara ilmiah kebenaran dari masalah tersebut. Dalam metode ini, akal menjadi alat utama pengujian, dan menolak sikap menerima sebuah pendapat sebelum dibuktikan dan terbukti kebenarannya, atau dalam kata lain menolak dogma. Metode inilah yang diterapkan oleh Taha Husein dalam membedah dan meneliti kebenaran syair Jahiliyah. Metode ini bukan hanya berdampak pada pemahaman sastra, tapi juga meluas dan menyinggung ilmu-ilmu lainnya. Hal ini terjadi karena, syair Jahily sering dijadikan sebagai alat bukti pendukung (syawahid) utama untuk menjelaskan tata kata dan konsep penafsiran al-Qur’an, serta membuktikan kemukjizatan bahasa al-Qur’an.

Sebab-Sebab Intihal Menurut Taha Husein

Taha Husein menjelaskan bahwa di antara penyebab intihal adalah kebutuhan politik, seperti yang terjadi adanya fanatisme kesukuan masing-masing suku, antara Quraisy dan Anshar mendorong pembuatan puisi-puisi palsu demi membanggakan masa lalu masing. Lalu ada sebab agama, Qashâsh (cerita), dan kesukuan (syu’ûbiyyah) dan Riwâyat.

Pertama, Intihal dengan dasar politik. Fanatisme suku menjadi faktor pendorong pemalsuan demi membanggakan masa-masa kejayaan kelompok masing. Namun, para kritikus membantah Taha Husein. Mereka sepakat bahwa ia tidak menyertakan satu pun contoh puisi yang menurutnya dipalsukan sehingga alasan ini menjadi gugur.

Kedua, Intihal disebabkan motif keagamaan seperti membuktikan kebenaran dan kedatangan Nabi. Puisi yang dinisbatkan kepada jin untuk memenuhi keinginan masyarakat terhadap hal-hal ghaib dan mengagungkan martabat nabi dan dari sisi nasabnya di Quraisy. Dalam hal ini, Syekh Muhammad al-Khadri menolak dan membantah bahwa puisi pra-Islam terkait dengan kenabian adalah palsu. Para mufassir juga tidak pernah membuat puisi palsu demi menafsirkan al-Qur’an.

Ketiga, motif Qashâsh. Menurut Taha Husein, para pencerita pada zaman Bani Umayyah dan Abbasiyah memperindah narasi mereka dengan mereka-reka puisi dan menyewa orang untuk membuatnya. Hal ini juga dibantah, para kritikus mengatakan bahwasanya gagasan ini bukan hal baru. Para ulama terdahulu sudah menyadari adanya puisi yang dipalsukan dan mereka sudah memilah serta menolak puisi tidak sah yang dinisbatkan kepada pembuatnya.

Keempat, motif Syu’ûbiyyah. Masalah kebangsaan seperti perselisihan antara bangsa Arab dan Mawâli memicu para Mawâli untuk melakukan pemalsuan demi mencela dan merendahkan bangsa Arab. Lagi-lagi, hal ini mendapat kritikan. Thaha Husein tidak menghadirkan bukti bahwa mereka melakukan pemalsuan puisi jahiliyyah, sehingga argumen ini kembali gugur untuk kesekian kalinya.

Terakhir, motif periwayatan. Taha Husein berpendapat bahwa para perawi saling mencela dan menjatuhkan antarsesama. Mereka memproduksi puisi sebagai mata pencaharian demi keuntungan pribadi. Dan sayangnya, argumen terakhir ini juga gugur. Celaan antarperawi sezaman itu sudah menjadi hal yang wajar demi meperebutkan kehormatan. Hal ini didasari persaingan, kecemburuan dan popularitas. Selain itu, para ulama terdahulu sudah sangat cermat dalam menyaring dan memisahkan puisi-puisi palsu tersebut.

Tidak dimungkiri, memang benar adanya terjadi pemalsuan puisi Jahiliyah, dan memang terekam dalam sejarah seperti yang disampaikan oleh Ibn Salam al-Jumahi. Para Ulama dan perawi terpercaya terdahulu sudah turun tangan dalam menguji dan menyeleksi syair-syair tersebut secara ketat dan adil, sehingga apa yg diragukan oleh mereka tentu patut diragukan juga. Sebaliknya, apa yg telah disepakati kebenarannya oleh mereka, maka wajib diterima, dan tetap dapat diuji secara ilmiah.

Reaksi Para Pemikir Arab

Gagasan Taha Husein yang memicu kontroversi besar dalam studi sastra Arab modern mendapatkan tanggapan kritis, dimulai dari kriteria keagamaan. Menjadikan Al-Qur’an sebagai satu-satunya tolak ukur untuk menilai kehidupan religi masyarakat Jahiliah dinilai kurang proporsional, sebab al-Qur’an berfungsi sebagai kitab agama yang membawa misi akidah (risalah samawiyah), sementara puisi merupakan ekspresi perasaan dan kata hati penyair. Jejak keagamaan paganistik sebenarnya tetap terekam dalam karya klasik seperti Kitab al-Asnam karya Ibn al-Kalbi, sedangkan puisi bercorak Nasrani yang membawa doktrin Trinitas diduga kuat sengaja dimusnahkan oleh para perawi Muslim yang tidak menyukainya.

Dari sudut pandang kehidupan politik, anggapan bahwa puisi Jahiliah tidak menggambarkan kondisi politik zamannya dengan tegas dibantah oleh para kritikus. Puisi-puisi karya an-Nabigah dan Hassan bin Tsabit secara jelas menjelaskan jalinan hubungan politik dengan kerajaan Gassan dan Manazirah, sementara penyair seperti al-A’sya menyuarakan kebanggaan politik dan kemenangan dalam peristiwa penting seperti Perang Dzi Qar melawan Persia. Begitu pula dalam masalah intelektual, meskipun masyarakat Arab pedalaman belum memiliki struktur berpikir sistematis seperti era Islam, mereka telah mengembangkan pola pikir praktis berupa kearifan lokal seperti yang tertuang dalam Mu’allaqah Zuhair dan Tharafah, serta menguasai berbagai cabang pengetahuan empiris seperti astronomi, kedokteran, silsilah, hingga geologi.

Pada ranah sosial dan ekonomi, keberadaan kelompok penyair Sha’âlik (penyair pengembara) menjadi bukti kuat bahwa puisi Jahiliah merekam aktifitas ekonomi masyarakatnya. Pembagian penyair oleh Bintu asy-Syati’ menjadi kelompok Qabilah, Bilâth, dan Sha’âlik menunjukkan bagaimana puisi digunakan sebagai media kritik terhadap ketimpangan sosial, kelaparan, kemiskinan, dan kedermawanan palsu kaum kaya.

Sementara itu, dari segi linguistik dan dialek, kritik Taha Hussein mengenai perbedaan bahasa Arab Selatan (Himyar) dan Utara (Adnan) dinilai mengabaikan proses asimilasi bertahap yang terjadi sejak abad ke-4 Masehi melalui migrasi dan perdagangan. Meskipun ragam dialek lokal tetap ada, para perawi sepakat bahwa dalam bersastra, para penyair Jahiliah telah menggunakan bahasa persatuan (fusha) berbasis bahasa Quraisy, dimana variasi dialek tersebut kelak juga tecermin dalam keragaman Qira’at Al-Qur’an sebelum disatukan pada masa Usman bin Affan.

Terakhir, berkaitan dengan metodologi dan kebenaran teks, para ulama neoklasik seperti Syauqi Dayf menegaskan bahwa fenomena pemalsuan puisi memang ada. Namun, para kritikus klasik seperti Abu ‘Amr, al-Mufaddal, dan al-Asma’i telah melakukan penyaringan yang sangat ketat dari segi sanad, lafaz, maupun makna. Oleh karena itu, keraguan total terhadap sebagian besar korpus puisi Jahiliyah dinilai tidak berdasar. Di samping itu, kritikus seperti Mahmoud Syakir mengungkapkan bahwa keberanian Taha Hussein dalam melontarkan gagasan skeptis tersebut pada dasarnya banyak menukil dan mereplikasi pemikiran orientalis Barat, khususnya Margoliouth melalui karyanya The Origin of Arabic Poetry.

Menurut hemat penulis, gagasan yang dikemukakan oleh Taha Husein berusaha untuk keluar dari cara pandang tradisional dan penuh dogma terhadap syair-syair Jahiliyah, lalu mencoba beralih kepada pemikiran yang lebih modern dengan membebaskan sastra dari dogma turun-temurun. Tentu ini seharusnya dapat menjadi batu loncatan dan sudut pandang baru dalam dunia akademik. Namun, penggunaan metode skeptisme yang terlalu radikal dan generalisasi ekstrem oleh Taha Husein malah mengantarkan beliau kepada dogma baru yang ia ciptakan sendiri. Pada akhirnya, buku Fî as-Syi'ri al-jahilî ditarik kembali dari pasaran dan mendapatkan revisi oleh Taha Husein. Perlu diluruskan bahwa plagiarisme menurut Taha Husein bukan secara total seratus persen. Ia masih mengakui keberadaan syair Jahiliyah yang asli, namun sangat sedikit dan tidak dapat menggambarkan kondisi kehidupan Jahiliyah secara utuh.

Faktor kemarahan para kritikus bukan hanya karena ia meragukan orisinalitas syair Jahiliyah, tapi  juga pada gagasan Taha Husein yang secara tidak langsung menyinggung keshahihan agama. Gagasannya menyinggung sekaligus meragukan penggunaan syair Jahili sebagai syawâhid makna-makna asing dalam tafsir dan qiraat, serta pendapat ia yang katakan bahwa Al-Qur’an menyampaikan kisah pembangunan Kakbah oleh Ibrahim dan Ismail adalah untuk tujuan keagamaan/moral, bukan sebagai catatan sejarah. Pernyataan ini dinilai oleh al-Azhar sebagai bentuk tuduhan bahwa Al-Qur’an memuat fakta sejarah yang tidak valid.

Di balik krontoversi yang tercipta dari gagasan seorang Taha Husein, terdapat hal menarik yang bisa menjadi renungan bagi kita. Dalam membaca biografinya, keterbatasan penglihatan yang seharusnya menjadi penghalang bagi kebanyakan manusia justru tidak berlaku bagi seorang Taha husein. Keberhasilan beliau dalam melahirkan sebuah gagasan dan menyelesaikan pendidikan, bagaiamana ia melampui para sastrawan yang memiliki penglihatan normal pada masanya membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah alasan untuk menjadi lemah. Karya kontrovesialnya justru menjadi pemicu perubahan gelombang akademis baru  dalam bidang kritik sastra Arab Modern dan menyebabkan lahirnya karya-karya kritik monumental seperti karya Mahmoud Muhammad Syakir dan Mustafa Shadiq al-Rafi'i, serta lahirnya gerakan kodifikasi sastra dengan metode tahqiq karena ketakutan akan keruntuhan dan hilangnya sejarah. Semua hal baik dan buruk pasti menyimpan hikmah di baliknya.  Wallâhu A’lam. 

Posting Komentar