Naguib Mahfouz; Ketika Sastra Arab Menggenggam Nobel

Daftar Isi


Oleh: Aliyya Fitri Ramadhani

Cairo International Book Fair atau yang biasa disingkat dengan CIBF merupakan salah satu pameran buku terbesar di dunia yang masuk pada urutan kedua setelah Frankfurt Book Fair di Jerman. Tahun ini, CIBF telah berlangsung di bulan Januari, dan sesuai tradisinya panitia CIBF telah mengangkat 2 orang tokoh sebagai personality of the year. Tradisi ini adalah bentuk penghargaan bagi tokoh-tokoh yang memiliki kontribusi besar di bidang budaya, sastra, juga pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan di Mesir. Dan tahun ini, salah satu nama yang terpilih adalah Naguib Mahfouz.


Biografi Naguib Mahfouz

Mahfouz lahir pada 11 Desember 1911 di desa Gamaliya, sebuah kawasan lama bersejarah yang berada tepat di jantung kota Kairo. Naguib Mahfouz adalah anak bungsu dari tujuh bersaudara. Ia memiliki enam orang saudara, dengan dua saudara laki-laki dan empat saudara perempuan yang semuanya meninggal dunia saat masih kecil, sehingga ia tumbuh seperti anak tunggal.

Ibunya adalah putri dari seorang ‘alim yang berkecimpungan dengan ilmu di Al-Azhar. Sedangkan, ayahnya adalah seorang pegawai sipil di sebuah kantor pemerintahan.

Mahfouz kecil seringkali diajak ibunya berkunjung ke museum-museum bersejarah, dan hal inilah yang nantinya menginspirasi tulisan-tulisannya. Ia dikenal banyak menuliskan karya yang berlatarkan setiap inci kehidupannya di kota Kairo, bahkan beberapa karya pertama yang dibuatnya berlatarkan kehidupan Mesir kuno.

Mahfouz adalah pribadi yang sangat menjaga privasi kehidupannya. Hal ini ia sampaikan langsung ketika menolak permintaan Raja al-Naqqash yang mengajukan untuk menuliskan otobiografi dirinya. Namus kritikus Arab yang terkenal itu berhasil membujuk Mahfouz untuk menceritakan kisah hidupnya kepadanya.


Latar Pendidikan yang Ditempuh oleh Mahfouz

Mahfouz beserta keluarganya telah pindah dari Gamaliya sejak Mahfouz kecil berusia 6 tahun. Ia pun memulai pendidikan dasarnya di Abbasiya. Ia juga baru memulai perjalanan menulisnya sejak di bangku sekolah dasar, ketika ia mulai menyukai cerita-cerita detektif, petualangan, juga buku-buku sejarah. Meskipun sudah menetap di Abbasiya, ia masih sering berkunjung ke daerah Gamaliya, menapaki jalan-jalan yang ketika kecil sering ia lewati bersama ibunya, karena ia begitu mencintai tempat kelahirannya tersebut.

Setelah menyelesaikan pendidikan di Abbasiya, ia pun melanjutkan pendidikannya ke sekolah menengah lanjutan dengan menggandeng minat yang begitu besar pada bahasa Inggris dan Prancis. Ia begitu menyukai momen-momen ketika ia dapat menikmati karya tulis fiksi dalam dua bahasa tersebut.

Di jenjang pendidikan yang lebih tinggi, ia memutuskan untuk mengambil jurusan filsafat di Universitas King Fouad I yang kini lebih dikenal dengan nama Universitas Kairo. Ia lulus dengan sangat terhormat dan diterima sebagai mahasiswa pasca sarjana. Pengaruh filsafat yang pernah ia tekuni ini memberikan pengaruh besar pada pemikiran-pemikiran Mahfouz yg setelahnya banyak ia tuangkan dalam karya tulisnya. Hal ini menjelaskan mengapa tema-tema moral, takdir, dan kebebasan muncul begitu kuat dalam banyak ceritanya.


Karir Kepenulisan dan Pekerjaan Mahfouz

Naguib Mahfouz adalah seorang penulis yang produktif, ia menulis lebih dari 30 novel dan 350 cerita pendek, banyak dari ceritanya juga telah diadaptasi menjadi film. Mahfouz sangat terkenal dengan karyanya yang begitu monumental dengan judul “The Cairo Trilogy”, “Children of Geblawy”, dan “The Harafish”.

Dalam semua karyanya, ia menggambarkan Kairo sebagai ruang sosial yang dipenuhi konflik moral, ketegangan keluarga, dan perubahan zaman, alih-alih hanya sebagai latar belakang tempat semata.

Mahfouz menaruh minat pada politik sejak ia masih muda. Ia lahir delapan tahun sebelum revolusi 1919 dan melewati masa kanak-kanak dan remaja dengan kondisi kekacauan politik di Mesir. Merupakan hal yang mustahil bagi pemuda-pemuda Mesir dari kalangan menengah ke bawah di masa itu untuk tidak ikut berpartisipasi dalam pertarungan politik. Juga karena ketertarikannya yang begitu dalam pada bidang politik dan sosial, hampir semua karyanya tidak terlepas dari pembahasan politik.

Selain tekun dalam kepenulisan, Naguib Mahfouz juga pernah bekerja sebagai pegawai pemerintahan selama tahun 1934-1971. Beberapa amanah yang pernah ia jalani yaitu menjadi pegawai administrasi di Universitas Kairo, sekretaris parlemen untuk Kementerian Wakaf Mortmain, kepala kantor sensor film dan teater di Biro Kesenian, direktur sebuah yayasan produksi film, dan sebagain konsultan budaya untuk Menteri Kebudayaan. Tahun-tahun setelah Mahfouz mengambil pensiun dari birokrasi Mesir, ia memutuskan untuk bergabung sebagai staf editor di sebuah kantor surat kabar harian Al-Ahram, kantor surat kabar tertua yang ada di Mesir saat itu.


Perhargaan Nobel yang Pernah Ia Raih

Penghargaan Nobel Sastra kepada Naquib Mahfouz merupakan peristiwa monumental bagi sejarah sastra Arab. Sebab, untuk pertama kalinya dalam sejarah Nobel Sastra sejak 1901 penghargaan tersebut diberikan kepada sastrawan Arab.

Pada tanggal 13 Oktober 1988, Mahfouz dinobatkan sebagai penerima Nobel di bidang sastra oleh Akademi Sastra Internasional. Konsistensi Mahfouz dalam menghasilkan karya dan perhatiannya pada isu-isu sosial politik menarik perhatian panitia Nobel dari Swedia, Swedish Academy.

Anugrah Nobel ini mengangkat karva-karva sastra dari negara Timur Tengah untuk tampil dalam skala dunia. Hingga kini, Mahfouz masih menjadi satu-satunya penerima Nobel dari Timur Tengah. Pada saat malam penobatan Nobel, ia tidak menghadiri secara acara tersebut, penerimaan nobelnya diwakili oleh Dr. Muhammad Salmawi.

Selain pernah mendapatkan penghargaan nobel atas karya-karyanya, Mahfouz juga sering mendapatkan teror dan percobaan pembunuhan karena tulisannya yg kerap kali mengangkat isu-isu politik dan sosial. Puncaknya adalah ketika tulisan berseri dengan judul “Aulad Haratina” dimuat di koran setempat, Mahfouz dikecam bahkan dianggap kontroversial karena telah menghina Islam dan dianggap murtad. Tragedi percobaan pembunuhan atas dirinya teriadi pada Oktober 1994, saat ia berumur 83 tahun, ia ditikam di bagian leher dengan sebilah pisau oleh seroang pemuda dari kelompok Islam garis keras. Hal ini menyebabkan cedera yang begitu serius hingga membuat Mahfouz tidak dapat melanjutkan karirnya dalam menulis dengan maksimal.


Akhir Hayatnya

Per Juli 2006, ia mengalami kecelakaan kepala karena terjatuh, ia pun kian hari masih harus melanjutkan perawatan di rumah sakit akibat sakit yang dideritanya hingga ia tutup usia di Rumah Sakit Kairo pada 30 Agustus 2006. Keesokan harinya, ia langsung dimakamkan secara militer.


Posting Komentar