Sungai Tigris; Saksi Pembantaian Ilmu Pengetahuan
Oleh: Hasna Azkia Rosyada
Sungai Tigris bukan sekedar aliran air yang membelah
Mesopotamia, tetapi juga mempunyai peran penting dalam beberapa peristiwa
sejarah. Salah satunya, sungai Tigris menjadi tempat lahir peradaban
besar umat Islam, yaitu Baghdad, ibu kota Kekhalifahan Abbasiyah. Di tepi
Sungai Tigris pula, ilmu pengetahuan berkembang dan mencapai puncaknya,
sehingga menjadikan kota Baghdad sebagai pusat keilmuan dunia.
Selain menyaksikan kejayaan ilmu
pengetahuan, sungai yang sama juga menjadi saksi sebuah tragedi yang
memusnahkan peradaban Islam di Baghdad, terutama terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan di sana. Tragedi tersebut bagai roda yang membalik keadaan. Kota
Baghdad yang saat itu sedang berada di puncak kegemilangannya seketika runtuh
dan meninggalkan sejarah yang kelam akibat serangan dari Bangsa Mongol.
Latar Belakang
Khalifah kedua Dinasti Abbasiyah,
Al-Manshur (754-775 M) membangun kota Baghdad di tepi perairan Sungai Tigris.
Al-Mansur juga sengaja merancang tata letak kota berbentuk bundar—sehingga
Baghdad pernah dijuluki sebagai Kota Bundar— dan membangun dua lapis tembok
pertahanan yang mengelilingi kota berbentuk lingkaran itu. Al-Manshur juga
membuat parit diluar tembok yang berfungsi sebagai saluran air sekaligus
benteng pertahanan.
Sungai Tigris adalah sebuah sungai di
Mesopotamia yang mengalir dari pegunungan Anatolia di Turki hingga melalui Irak
dan bermuara di Teluk Persia, yang memiliki panjang sekitar 1.850 km. Sungai
ini muncul dari pegunungan Taurus di bagian timur Turki sekitar 25 km sebelah
tenggara kota Elazig dan sekitar 30 km dari sumber-sumber air sungai Efrat.
Sungai ini kemudian mengalir 400 km melalui wilayah Turki sebelum menjadi batas
antara negara Suriah dan Turki.
Bagian sepanjang 44 km ini terletak di
Suriah dan sisa 1,418 km seluruhnya di dalam wilayah Irak. Sungai Tigris
menyatu dengan Sungai Efrat—Sungai Efrat dan Sungai Tigris adalah dua bengawan
yang menjadi sebab daerah di sepanjang tepiannya disebut Mesopotamia (negeri di
antara dua sungai)—di dekat Basrah. Kedua sungai ini bergabung menuju Teluk
Persia dan gabungan massa air yang mengair ini dikenal sebagai Shatt Al-Arab.
Menurut Plinius yang Tua dan sejarawan kuno lainnya, Sungai Efrat asalnya
memiliki muara ke laut yang terpisah dari Sungai Tigris.
Posisi strategis ini pula yang dapat
membuat ilmu pengetahuan berkembang ke penjuru dunia. Melalui jalur
perdagangan, mereka bertukar informasi mengenai keilmuan dari berbagai wilayah.
Selain jalur perdagangan, alat tulis tentunya berperan penting dalam
perkembangan ilmu pengetahuan, terutama kertas.
Media Penulisan
Bahasa Arab kuno menyerap kata کاغذ (kāghaz)
dari Persia menjadi kata الكاغد (al-kāghad atau al-kāghid) yang berarti
kertas. Kata al-kāghad populer untuk menyebut kertas buatan pabrik.
Sebelumnya, orang Arab menggunakan kata qirthâs yang diserap dari bahasa
Yunani (chartes) yang mengacu pada papirus atau perkamen. Penyerapan
kata al-kāghad ini terjadi pada awal masa Kekhalifahan Abbasiyah
(sekitar abad ke-8 Masehi), khususnya setelah peristiwa Perang Talas (751 M)
dan berdirinya pabrik kertas di Samarkand dan Baghdad.
Semenjak tahun pertama Hijriah hingga awal
abad ketiga Hijriah, bahan umum yang digunakan untuk menulis adalah kain perca
dan tanaman papirus. Kedua bahan ini kemudian digantikan dengan kertas yang
dikenalkan oleh tawanan dari Cina.
Surat resmi yang ditulis di atas
papirus pada abad ketiga Sebelum Masehi.
Pada tahun 751, beberapa orang Cina
tawanan Perang Talas —yang ternyata ahli dalam membuat kertas— memperkenalkan
seni pembuatan kertas dari flax dan linen atau kain rami. Kertas Cina mulai
masuk ke Irak pada abad ke-3 Hijriah. Tidak lama setelahnya, industri kertas
mulai meroket, industri itu pertama kali muncul di Samarkand. Dari Samarkand,
industri itu menyebar ke Irak.
Pada masa pemerintahan Gubernur Khurasan
pada tahun 794 Masehi, pabrik kertas pertama berdiri di Baghdad. Segera setelah
itu, media penulisan dokumen-dokumen resmi negara diganti menjadi kertas.
Kertas-kertas ini kemudian menjadi media populer dalam penulisan yang
memudahkan penyebaran ilmu pengetahuan. Kota-kota muslim yang lain membangun
pabrik-pabrik kertas mengikuti rancangan pabrik yang berada di Samarkand. Pada
masa Al-Maqdisi—seorang ahli geografi abad kesepuluh— kertas produksi Samarkand
masih dianggap sebagai kertas dengan kualitas terbaik. Hingga akhir abad ke-10,
kertas telah menggantikan perca dan papirus di seluruh wilayah umat Islam.
Perkembangan Ilmu Pengetahuan
Berdirinya perpustakaan Baitul Hikmah menjadi titik tolak kejayaan ilmu pengetahuan di Baghdad. Perpustakaan ini pada mulanya dibangun oleh Khalifah Harun Ar-Rasyid sebagai perpustakaan pribadi. Pada saat itu, perpustakaan ini dinamakan Khizânah Al-Hikmah. Namun oleh putranya, Khalifah Al-Ma'mun, lembaga ini dikembangkan menjadi pusat penerjemahan, penelitian, dan pendidikan serta diubah namanya menjadi Baitul Hikmah. Saat meluaskan fungsi lembaga ini, Al-Ma’mun mengumpulkan para ahli nujum, ahli ilmu falak, dan kaum terpelajar lainnya. Al-Ma’mun kemudian menunjuk Sahl bin Harun dan Said Harun sebagai penanggung jawab pembangunan Baitul Hikmah.
bin
Perpustakaan Baitul Hikmah diresmikan oleh
negara pada 830 M (215 H) dan menjadi perpustakaan Islam terbesar yang pernah
dimiliki Dinasti Abbasiyah, dengan koleksi buku lebih dari 60.000-400.000 buah.
Tidak lama setelah Baitul Hikmah diresmikan, bermunculan
perpustakaan-perpustakaan lain serta toko buku yang dibangun di sepanjang
jalanan kota. Berbagai cabang ilmu tumbuh, dan dari sana lahir pula
ilmuwan-ilmuwan hebat yang terkenal hingga saat ini seperti Ibnu Sina, Ar-Razi,
Al-Kindi, Al-Farabi, hingga Al-Khawarizmi.
Setidaknya ada tiga kontribusi utama
Baitul Hikmah dalam perkembangan ilmu pengetahuan di Baghdad. Pertama,
Baitul Hikmah melestarikan peninggalan kuno seperti manuskrip dari berbagai
peradaban dengan memastikan karya-karya penting dari zaman kuno tidak hilang. Kedua,
ia menjadi lembaga pertukaran ilmu yang memfasilitasi penerjemahan teks dari
sumber-sumber Yunani, Persia, dan India, sehingga mendorong pertukaran ide
intelektual. Ketiga, ia membuat kemajuan dalam berbagai disiplin ilmu
seperti matematika, sains, dan filsafat.
Ahli bibliografi yang hidup pada abad
ke-10, Ibnu Al-Nadim, mengungkapkan bahwa terdapat 4.300 penulis yang
tulisannya ditemukan di perpustakaan yang ada di Baghdad. Manuskrip-manuskrip
itu mencakup bahasan keilmuan. Pengumpulan manuskrip kuno ini dilakukan dengan
tujuan untuk menerjemahkan karya-karya tersebut ke dalam bahasa Arab, karena
sebagian dari manuskrip itu merupakan karya filsafat Yunani, seperti
Aristoteles, Plato, dan Ptolemeus. Sebagian lainnya merupakan karya para cendekiawan
muslim.
Di bawah naungan Baitul Hikmah, kemajuan ilmu pengetahuan
mulai berjalan sepenuhnya ketika diadakannya penerjemahan teks-teks asing.
Ratusan, bahkan ribuan naskah berbahasa Yunani, Persia, Aramaik (Suriah), dan
India dari berbagai disiplin ilmu—seperti filsafat, sastra, matematika, musik,
logika, astronomi, kedokteran, dan lainnya—diterjemahkan ke dalam bahasa Arab.
Beberapa ilmuwan ditugaskan menjadi penerjemah di Baitul Hikmah. Di antaranya
adalah Yahya bin Abi Mansur, Sabian Sabit bin Qurra, Qusta bin Luqa, Yahya bin
Abi Mansur, dan Hunayn bin Ishaq.
Merujuk buku History of The Arab, Hunayn bin Ishaq
ditunjuk menjadi ketua penerjemah di Baitul Hikmah. Ia adalah seorang penganut
sekte Ibadi, yakni pemeluk Kristen Nestor dan Hirah. Oleh Ibnu Al-Ibri dan
Al-Qifthi, Hunayn bin Ishaq dinilai sebagai sumber ilmu pengetahuan dan tambang
kebajikan karena kecerdasan dan wawasan pengetahuannya yang luas.
Era penerjemahan naskah-naskah dari berbagai peradaban ke
dalam bahasa Arab diikuti juga dengan era penulisan karya-karya orisinal oleh
para cendekiwan muslim. Di antaranya seperti kitab al-Qânûn karya Ibnu
Sina (Kedokteran), al-Kawâkib al-Tsâbitah karya Abd Al-Rahman Al-Shufi
(Astronomi), al-Rahma al-Kabîr karya Jabir (Kimia), Sûrat
al-Ardh karya Al-Khawarizmi (Geografi), dan lain sebagainya. Karya-karya
itu memiliki pengaruh yang sangat signifikan terhadap perkembangan ilmu
pengetahuan setelahnya.
Selain menerjemahkan buku-buku asing ke dalam bahasa Arab,
para ilmuwan yang memiliki hubungan dengan Baitul Hikmah juga banyak membuat
kontribusi besar di berbagai bidang keilmuan. Di bawah kepemimpinan Al-Ma'mun,
observatorium—gedung yang dilengkapi oleh fasilitas canggih seperti teleskop
untuk melakukan pengamatan astronomi—didirikan. Baitul Hikmah telah menjadi
pusat untuk studi humaniora dan ilmu pengetahuan yang terbaik pada abad
pertengahan Islam. Karya-karya ilmuwan dan hasil terjemahan ke dalam bahasa
Arab disebar ke seluruh penjuru dunia, terutama wilayah umat Islam.
Petaka yang Menimpa Baghdad
Setelah lima ratus tahun lebih meraih kejayaan, Baghdad
sampai pada penghujung masanya. Hal ini dipicu oleh faktor internal. Di
antaranya adalah melemahnya kekuatan dan peran khalifah sehingga tidak
mempunyai banyak pengaruh. Selain itu, merosotnya ekonomi negara akibat dari
eksploitasi dan pemungutan pajak secara berlebihan menyebabkan kehancuran pada
pertanian dan industri. Menyebarnya wabah penyakit seperti cacar dan malaria
juga telah membinasakan banyak penduduk di berbagai wilayah. Konflik internal
ini memberi celah bagi pasukan Mongol untuk melakukan serangan terhadap
Baghdad.
Hulagu Khan, yang bergerak dari Mongol, memimpin pasukan
berkekuatan besar pada tahun 1253 untuk membasmi kelompok Hasyasyin dan
menyerang Kekhalifahan Abbasiyah. Dalam waktu satu bulan, pasukan Mongol
berhasil memporak-porandakan kota Baghdad. Hal ini dipicu oleh kemarahan Hulagu
Khan. Pada awalnya Hulagu mengundang khalifah Al-Musta'sim untuk bekerja sama
dan berharap Al-Musta'sim dapat memperkuat pasukan mereka dalam menghancurkan
kelompok Hasyasyin. Akan tetapi, Al-Musta'sim tidak menjawab undangan tersebut.
Pada bulan September tahun 1257, Hulagu mengirim ultimatum kepada khalifah agar
menyerah dan mendesak agar tembok kota bagian luar diruntuhkan, tetapi khalifah
tetap enggan memberikan jawaban.
Akhirnya, pada Januari 1258, anak buah Hulagu bergerak
dengan efektif untuk meruntuhkan tembok ibukota. Pasukan Mongol menginvasi
Mesopotamia dari semua sisi. Mereka kemudian menyerbu Baghdad dan mengadakan
sebuah sortie—semacam pengerahan atau pengiriman satu unit militer—pada tanggal
17 Januari 1258 dengan membanjiri kamp mereka. Pasukan Mongol kemudian
mengepung Baghdad yang pasukannya tinggal 30.000 orang.
Pada tanggal 5 Februari 1258, pasukan Mongol berhasil
menguasai benteng di sekitar Baghdad. Khalifah kemudian berusaha bernegosiasi
dengan Hulagu. Akan tetapi, Hulagu menolak. Akhirnya pada tanggal 10 Februari,
Baghdad secara resmi jatuh ke tangan pasukan Mongol.
Pasukan Mongol mulai memasuki kota Baghdad
pada 13 Februari 1258. Periode tersebut menjadi masa kelam yang diwarnai
pertumpahan darah dan penderitaan rakyat Baghdad. Pembantaian yang dilakukan
secara membabi buta membuat jalanan dialiri darah. Seorang sejarawan
Islam, Abdullah Wassaf, memperkirakan pembantaian warga kota Baghdad
mencapai beberapa ratus ribu orang. Ian Frazier dari majalah The New
York Worker memberi perkiraan sekitar 200 ribu sampai dengan 1 juta
orang.
Mesjid, istana, sekolah, rumah sakit dan fasilitas lainnya
dijarah dan dihancurkan, bangunan-bangunan bersejarah dibakar. Dan tidak luput
dari itu, perpustakaan Baitul Hikma pun ikut dijarah. Puluhan ribu buku hasil
terjemahan dan karya ilmuwan saat itu dibakar. Sebagian besar buku dibuang ke
sungai Tigris. Namun, lantaran banyaknya buku yang terendam membuat tintanya
luntur sehingga para saksi menyatakan bahwa warna air sungai Tigris berubah
menjadi hitam, disusul merah akibat darah dari korban pembantaian.
Khalifah Al-Musta'sim ditangkap dan dipaksa melihat
rakyatnya disembelih di jalanan. Setelah itu, tubuh khalifah dibungkus dengan
karpet dan diinjak-injak oleh beberapa kuda sampai mati. Bangsa Mongol percaya
bahwa menumpahkan darah bangsawan atau penguasa tertinggi secara langsung ke
bumi akan membawa kutukan atau kemalangan.
Demikian perjalanan ilmu pengetahuan di Baghdad. Sebagian besar hasil terjemahan dan buku karangan ilmuwan musnah dibakar dan dibuang di Sungai Tigris. Namun, sebagian kecil berhasil diselamatkan oleh para cendekiawan melalui salinan yang tersebar. Sedangkan perpustakaan Baitul Hikmah sendiri lenyap tidak bersisa. Peristiwa kelam ini memberikan pelajaran berharga tentang pentingnya ilmu pengetahuan dalam suatu bangsa. Kota Baghdad masih ada sampai sekarang dan menjadi ibu kota Irak saat ini. Namun, julukan ‘Pusat Ilmu Pengetahuan Dunia’ tidak lagi disematkan pada kota itu. Pada akhirnya, kunci dari sebuah peradaban yang gemilang akan lahir dari para pemimpin yang bertanggung jawab atas pendidikan rakyatnya, begitu pula sebaliknya.
Ilustrasi menghitamnya Sungai Tigris yang disebabkan oleh
lunturan tinta.
Posting Komentar