Sejarah Penyatuan Mesir Kuno pada Masa Pra-Dinasti

 Oleh: Ahmad Ghifari*



Mesir adalah sebuah negara yang terletak di sudut timur laut benua Afrika, sekaligus berada di benua Asia. Pasalnya, Semenanjung Sinai di timur laut Mesir merupakan bagian integral dari benua Asia. Sebagai sebuah negara yang sebagian besar wilayahnya berupa gurun, Mesir menjadi magnet bagi makhluk hidup untuk dijadikan tempat tinggal karena tersedianya sumber daya kehidupan yang paling utama, yaitu air. 


Air yang sanggup menyuburkan satu negara itu adalah Sungai Nil, yang membentang dari wilayah selatan ke utara. Hulu utama sungai Nil ada dua: pertama, di Danau Victoria, Uganda yang disebut Nil Putih. Kedua, di Danau Tana, Ethiopia disebut Nil Biru. Kedua hulu ini bertemu di Khartoum, ibu kota Sudan, sebelum akhirnya mengalir hingga ke hilir di Laut Mediterania. Sungai terpanjang kedua setelah Sungai Amazon ini melewati sebelas negara dan telah menjadi pusat kehidupan berbagai peradaban, termasuk Peradaban Mesir Kuno yang akan dibahas dalam tulisan ini.


Peradaban Mesir kuno dimulai ketika masyarakatnya menetap di tepian Sungai Nil. Sungai ini memberikan kestabilan dan penghidupan yang layak, sehingga memungkinkan mereka untuk membangun salah satu peradaban paling terkenal dalam sejarah umat manusia. Peradaban ini menghasilkan banyak nilai berharga bagi umat manusia, seperti ilmu pengetahuan, budaya, seni, kebijaksanaan, dan pemikiran. Selain itu, semua pencapaian peradaban ini disebarluaskan ke berbagai wilayah di sekitarnya. Kekayaan nilai ini menjadikan Mesir satu-satunya negara yang dapat ditelusuri sejarah budaya dan politiknya selama empat ribu tahun tanpa henti.


Zaman Pra-dinasti, begitu istilah para peneliti menyebutnya, merujuk pada masa sebelum monarki, dengan dasar bahwa masa tersebut merupakan masa persiapan berdirinya peradaban Mesir era Firaun. Zaman ini berada dalam rentang waktu setelah masa Prasejarah, yang ditandai dengan penggunaan batu dalam peralatan berburu, mulai dari Paleolitikum, Mesolitikum, Neolitikum, hingga Chalcolithic atau Zaman Tembaga. Masa Prasejarah Mesir berlangsung sekitar 100.000 SM - 3.700 SM. Sedangkan masa Pra-Dinasti berlangsung sekitar 4.000 SM - 3.000 SM.

 

           Kondisi Mesir Sebelum Bersatu

Peradaban Mesir secara regional sejak masa Neolitik terbagi dalam dua bagian utama:

  • Mesir Hilir, yang berada di ujung sungai Nil. Wilayah ini juga disebut Mesir Utara karena berada di bagian utara Mesir.
  • Mesir Hulu, yang terletak di dataran tinggi Mesir dan jauh dari delta atau hilir sungai Nil. Disebut Mesir Hulu karena letaknya lebih dekat dengan sumber Sungai Nil. Wilayah ini juga disebut Mesir Selatan karena terletak di bagian selatan Mesir.



Peradaban Pra-dinasti dimulai, menurut perhitungan sejarawan, bersamaan dengan dikenalnya penggunaan tembaga dan tulisan. Selain itu, dimulainya masa ini ditandai dengan berdirinya kota-kota, meningkatnya kontak dengan dengan wilayah sekitar, munculnya unit-unit regional, berdirinya kerajaan-kerajaan lokal dan lenyapnya sistem klan.


Sebagaimana yang disebutkan sebelumnya, Mesir pada masa ini terbagi secara regional menjadi dua wilayah utama, yaitu Mesir Hilir dan Mesir Hulu. Pembagian ini disebabkan oleh perbedaan unsur budaya yang berkembang di masing-masing wilayah berdasarkan kondisi geografisnya. Mesir Hulu terbatas pada Lembah Nil, yang dibatasi oleh gurun di timur, barat dan selatan. Karena letaknya yang terasing, Mesir Hulu tidak banyak mendapatkan pengaruh dari budaya asing. Sedangkan Mesir Hilir banyak dipengaruhi oleh pengaruh Libya di barat, Palestina, dan pulau-pulau di Mediterania timur.


Peradaban Mesir Hulu

Salah satu peradaban Mesir Hulu pada masa Pra-dinasti adalah Naqada yang terletak di sisi barat sungai Nil, sekitar 80 KM di sebelah utara Luxor. Peradaban Naqada menjadi peradaban yang paling penting pada masa ini. Peradaban lain di Mesir Hulu adalah Peradaban Omaria, yang terletak di tenggara kota Abidos, Kegubernuran Sohâg. Peradaban Omaria dipengaruhi oleh peradaban Naqada yang mendahuluinya. Situs lain dari peradaban Mesir Hulu pada masa pra-dinasti adalah situs Garza, sebelah utara Maydum, Kegubernuran Giza. 


Setiap peradaban Mesir memiliki kerajaan masing-masing. Kerajaan di Mesir Hulu yang disebut dengan Kerajaan Selatan memiliki ibu kota di Nekhen (Hierakonpolis). Peradaban di selatan disimbolkan dengan tanaman Adas karena kaitan tanaman tersebut dengan ritual-ritual keagamaan. Sedangkan lambang kerajaannya adalah bunga Lotus. Dewa pelindungnya adalah Nekhbet yang digambarkan sebagai seekor burung manyar. Dari segi atribut kerajaan, raja di wilayah selatan mengenakan mahkota putih yang disebut Hedjet.




Peradaban Mesir Hilir

Di Mesir Hilir, terdapat peradaban Ma’adi. Ma’adi dikenal sebagai pusat peradaban Mesir Hilir, sejajar dengan Naqada di Mesir Hulu. Pemukiman Ma’adi sangat penting dikarenakan lokasinya yang strategis, yaitu di antara Mesir Hilir dan Mesir Hulu, Semenanjung Sinai dan Asia Barat. 


Kerajaan di mesir Hilir disebut Kerajaan Utara dengan ibu kota Bu, yang diketahui pada masa Ptolemi dengan nama Buto (berada di sekitar kegubernuran Kafr el-Syekh). Wilayah utara disimbolkan dengan lebah dan simbol kerajaannya adalah tanaman papirus. Sebagaimana Kerajaan Selatan yang memiliki dewa pelindung, wilayah utara dilindungi oleh dewa Wedjet. Dewi tersebut digambarkan sebagai ular kobra. Dari segi atribut kerajaan, raja di Kerajaan Utara mengenakan mahkota merah yang disebut Dashret.




Selama berabad-abad sebelumnya, baik Mesir Hulu maupun Mesir Hilir mengalami perkembangan yang sama. Namun, pada akhir abad ke-32 SM, meningkatnya perdagangan dengan peradaban tetangga seperti Mesopotamia menggeser keseimbangan kekuatan ke arah Mesir Hulu. Sedangkan Mesir Hilir hanya terdiri dari beberapa divisi administratif kecil. Secara peradaban, Mesir Hulu lebih maju dari Mesir Hilir. Hal tersebut terbukti dalam Prasasti Narmer yang meminjam unsur-unsur dari ikonografi Mesopotamia, khususnya desain Sauropod yang mengambil dari peradaban di Uruk.


Sebab Penyatuan Mesir Hulu dan Hilir

Seperti disebutkan sebelumnya, Mesir terbagi menjadi dua kerajaan yang bersaing: Mesir Utara dan Selatan. Masing-masing kerajaan diperintah oleh seorang raja dengan sistem dinasti. Kedua kerajaan tersebut diketahui sebagai pengikut Horus dan dewa-dewa lain dengan budaya yang berbeda. Kondisi Mesir saat itu, menurut sejarawan, penuh dengan pemberontakan dan perebutan wilayah dikarenakan kurangnya persediaan makanan.


Pendeta Mesir di masa Ptolemi pada abad ketiga sebelum Masehi, Manetho, mencatat bahwa raja pertama yang menyatukan Mesir Hulu dan Hilir adalah Raja Meni (Menes dalam bahasa Yunani) pada tahun 3200 SM. Sejarawan meyakini Meni adalah Raja Narmer yang berasal dari Kerajaan Mesir Selatan. Raja Narmer memiliki keinginan untuk memperluas wilayah kekuasaan dan memperoleh tanah baru di Mesir. Raja Narmer merupakan raja di wilayah Mesir Hulu.


Namun, temuan dari bukti arkeologis lain menunjukkan bahwa Mesir setidaknya telah bersatu sebagian, mungkin sejak masa pemerintahan Raja Kalajengking I (العقرب) (beberapa generasi sebelum Narmer). Bukti peran Raja Kalajengking I dalam mempersatukan Mesir berasal dari makamnya di Abydos (Mesir Hulu). 


Jalan Penyatuan Mesir

Mesir Hulu mulai melihat ke arah Delta, dan mereka berhasil mencaploknya secara permanen sekitar tahun 3150 SM. Tentara Raja Narmer dari Mesir Hulu mengalahkan Mesir Hilir. Militer pasukan Raja Narmer membantai 60.000 orang untuk menundukkan Mesir Hilir. Setelah itu, ia mulai menyebut dirinya Raja Dua Wajah, Utara dan Selatan. Penaklukkan secara militer tersebut tertulis dengan epik dalam sebuah prasasti, Pelat Narmer. Dalam pelat itu, tertulis keberhasilan raja Narmer dalam menyatukan Kerajaan Mesir Selatan dengan Kerajaan Mesir Utara. 





            Pelat Narmer

Penyatuan Mesir Hulu dan Hilir dicatat dalam sebuah prasasti berbentuk perisai bernama Pelat Narmer. Pelat Narmer ditemukan di Hierakonpolis, Mesir Hulu pada abad ke-19 Masehi. Ketika ditemukan, pelat ini terkubur bersama benda-benda lain yang kemungkinan menjadi pajangan di sebuah kuil. Peneliti Sejarah Mesir meyakini Pelat Narmer adalah dokumen pertama yang tercatat dengan baik sepanjang sejarah umat manusia. Kini, Pelat Narmer berada di Museum Mesir Tahrir yang terletak di Kairo.


Pelat Narmer diukir di atas batu lanau dengan panjang 25 inci dan lebar sekitar 16 inci serta relief rendah. Bagian tengah yang menjadi sorotan pertama ketika melihat pelat ini bergambar seseorang yang menggunakan mahkota putih hendak mengeksekusi seseorang. Di bawahnya, digambarkan dua orang yang sedang berlari. Peneliti menerangkan bahwa ini adalah penggambaran Raja Narmer yang berhasil menguasai Kerajaan Mesir Utara, mengusir pasukan yang kalah dan mundur.


Kemudian di sisi lainnya, tergambar seorang raja dengan mahkota merah berjalan dengan iringan pasukan yang membawa tongkat dengan ujung yang berbeda-beda dengan tubuh-tubuh manusia tanpa kepala di depannya. Raja Narmer, yang merupakan raja Kerajaan Mesir Selatan yang dicirikan dengan mahkota merah, bersama pasukannya digambarkan sebagai pembawa panji dewa-dewa Mesir kuno. Sedangkan mayat tanpa kepala menunjukkan keberhasilan mereka dalam mengalahkan pasukan Kerajaan Utara.

Sedangkan gambar di bawahnya adalah hewan berkaki empat yang memiliki leher panjang melingkar seperti ular. Kemudian lebih rendah lagi, ada gambar banteng yang tanduknya sedang menghancurkan tembok dan kakinya menginjak tangan manusia di bawahnya. Menurut peniliti, dua hewan ini menggambarkan penyatuan dua wilayah yang kuat dan banteng itu adalah perumpamaan dari firaun yang kuat.


Poin Penting dari Bersatunya Mesir

Bersatunya Mesir menjadi sebuah kekuasaan di bawah kepemimpinan Raja Narmer pun dimulai. Hal tersebut menandai beralihnya masa pra dinasti ke masa Dinasti Awal Mesir Kuno. Sedikitnya, ada beberapa hal yang terjadi setelah Mesir bersatu:


1- Dua kerajaan bergabung menjadi satu

Raja Narmer menggabungkan Mesir Hulu dan Hilir menjadi satu. Maka, dia menjadi Raja dengan Dua Wajah, Utara dan Selatan. Narmer juga menjadi raja pertama kerajaan Mesir Kuno yang akan terus bertahan ribuan tahun selanjutnya. 


2- Mahkota Gabungan Pschent

Bergabungnya dua wilayah, Selatan dan Utara yang memiliki perbedaan budaya khususnya mahkota sang raja, menghasilkan campuran budaya yang diawali oleh Raja Narmer dengan digabungnya mahkota putih dan merah menjadi satu mahkota yang kemudian disebut Pschent.



3- Ibukota Mesir Pertama, Memphis

Untuk menguatkan posisinya sebagai negara baru, Raja Narmer membuat sebuah kota baru untuk dijadikan ibu kota bagi negeri yang dibuatnya. Daerah itu kini disebut Memphis (sekarang ada di Kegubernuran Giza). Memphis menjadi pusat negara dan kota penting dalam pusat pekerja, pertanian, dan jalur perdagangan yang penting dan menguntungkan. 



4- Pelat Narmer

Pelat Narmer adalah dokumen yang dibuat atas dasar peristiwa penyatuan Mesir yang berhasil. Prasasti ini secara tidak langsung menguatkan posisi Raja Narmer terhadap kisah epik yang menjadikannya seorang raja yang patut dihormati oleh rakyat Mesir Kuno dan raja lain.


5- Permulaan Periode Dinasti Awal Mesir Kuno

Penyatuan Mesir Hulu dan Hilir ini mengakhiri masa Pradinasti. Setelahnya, Mesir memasuki Periode Mesir Kuno dengan Narmer sebagai dinasti pertama di Mesir Kuno. Hal tersebut selaras dengan pendapat Manetho, sejarawan Mesir di masa Ptolemy, yang mencatat semua dinasti periode Mesir Kuno dan terangkum dalam bukunya Aegyptiaca. 


Begitulah proses penyatuan Mesir yang kemudian menghasilkan Peradaban Mesir Kuno dengan segala hasil kebudayaan yang bermacam-macam. Sejarah tentang persatuan akan membuat kebudayaan yang lebih banyak dan memberi manfaat lebih luas, juga tentang mementingkan kepentingan khalayak ketimbang kepentingan pribadi. Sekian dan sampai jumpa di tulisan berikutnya.

 

*Ahmad Ghifari, mahasiswa sarjana tingkat 4 Jurusan Sejarah Universitas al-Azhar. Hobi masih berubah-ubah (diusahakan membaca), Karya ini merupakan Bahs tingkat 1, bukan masterpiece, tapi salah datu buah pembelajaran selama kuliah.

Posting Komentar

Post a Comment (0)

Lebih baru Lebih lama