Oleh: Achmad Ibnu Ibad
“Tidak
ada peradaban tanpa ilmu, dan tidak ada ilmu tanpa kebebasan berpikir,” Sabda Taha
Husein, pemikir Mesir kontemporer, dalam bukunya, Mustaqbal ats-Tsaqâfah fî
Masr. Sastrawan yang mendapat julukan ‘Amîd al-Adab al-‘Arabiy
(Bapak Sastra Arab Modern) ini sempat menghebohkan masyarakat dengan karya
fenomenalnya, fî as-Syi’ri al-Jâhilî. Mungkin, karena kontroversi
tersebut, Taha Husein menjadi salah satu tokoh sastrawan yang paling banyak
disalahpahami. Bahkan, ia menyebutkan dalam ma’a Abî ‘Ala’ fî Sijnihi bahwa
“aku telah mendengar semua perkataan itu... maka aku mememeluk erat-erat Abu
Ala’ dalam kesakitannya, dan tetap teguh menghadapi celaan mereka.”
Nama aslinya adalah Taha Husein Ali
Salamah. Taha Husein lahir pada 14 Februari 1889 di provinsi Minya, sebelah
utara Mesir. Ia adalah anak ketujuh dari tiga belas bersaudara. Secara ekonomi,
keluarga Taha termasuk dalam golongan menengah ke bawah. Ayahnya, Husein Ali,
adalah seorang karyawan di pabrik gula. Meskipun bergitu, Husein Ali tetap
berusaha untuk memberikan pendidikan terbaik pada anak-anaknya. Salah satunya
adalah dengan menyerahkan mereka kepada guru mengaji untuk menghafal al-Qur’an.
Taha Husein mengalami kebutaan pada saat umurnya tiga tahun dikarenakan infeksi
mata. Infeksi tersebut terjadi karena mata Taha kecil yang sakit tidak segera
diobati.
Kebutaan tidak menghalangi Taha
kecil untuk menghafal al-Qur’an. Ia berhasil menamatkan hafalannya pada usia
sembilan tahun. Meskipun buta, Taha kecil merupakan anak yang cerdas dan tekun.
Pada autobiografinya, al-Ayyâm, Taha menceritakan tentang dirinya, “ia
adalah anak kecil yang kuat hafalannya. Maka, ia tidak mendengar sebuah kalimat
dari gurunya kecuali telah dihafal, tidak juga pendapat kecuali telah dipahami,
tidak juga penjelasan kecuali sudah tertanam pada dirinya.” Taha kecil tinggal
di desanya, al-Kilû, sampai usia tiga belas tahun. Selama itulah, karakter dan
cara berpikir Taha kecil dibentuk.
Pada tahun 1992, Taha bekelana ke
Kairo untuk belajar di Universitas al-Azhar bersama saudaranya yang bernama
Ahmad Husein. Taha memfokuskan pembelajarannya pada ilmu-ilmu agama dan bahasa.
Terdapat dua syekh yang paling memengaruhi pemikirannya saat itu. Pertama,
Muhammad Abduh. Taha sangat mengagumi pemikiran-pemikiran beliau dalam tajdîd
dan peradaban. Kedua, Syekh Husein bin Ahmad al-Marshafi, pemilik buku al-Wasîlah
al-Adabiyah ilâ al-Ulûm al-‘Arabiyah. Taha belajar kitab-kitab syair dan
sejarah seperti al-Kâmil milik Mubarrad, Diwan al-Hammâsah
milik Abu Tamam, al-Amâlî milik Abu Ali al-Qali kepada al-Marshafi.
Taha Husein adalah seorang murid
yang frontal dan berani dalam mengungkapkan pendapatnya. Mungkin, karena itulah
ia tidak mendapatkan ijazah formal dari Universitas al-Azhar. Perinciannya
dapat ditemukan dalam majalah Adab wa Naqd nomor 53 tahun 1989 dengan
judul “Seratus Tahun Taha Husein”. Taha kemudian meninggalkan al-Azhar dan
belajar di Universitas Kairo (waktu itu, namanya adalah Universitas Mesir) yang
baru berdiri. Di Universitas Mesir, Taha mengalami apa yang disebut sebagai
“lompatan intelektual”. Dahaganya akan ilmu pengetahuan terpuaskan ketika ia
belajar di universitas tersebut.
Pada periode ini, Taha berkenalan dengan nama-nama yang menyediakan wadah untuk menuangkan tulisan-tulisannya. Contohnya, Luthfi as-Sayid yang menerbitkan tulisan Taha Husein dalam koran miliknya. Selain itu, ada Syekh Abdul Aziz Jawisy yang menerbitkan tulisan Taha tentang kritik sastra. Pada masa ini pula Taha mulai membuat syair. Tentang guru-gurunya, Taha memiliki beberapa guru yang membentuk pemikirannya tentang adab. Salah satunya adalah al-Marshafi yang telah disebutkan di muka. Selain itu, ada Hanafi Nasif yang mengajar Sastra Arab Klasik, Muhammad Khadhari yang mengajar Sejarah Islam, Syeikh Muhammad al-Mahdi dan Syekh Thanthawi Jauhari.
Taha
Husein merupakan murid pertama yang lulus dari Universitas Mesir tahun 1914. Skripsi
yang ia tulis berjudul Dzikrâ Abî ‘Ala’. Abu Ala’ adalah salah satu
penyair yang Taha kagumi. Pada suatu hari, ia membaca di koran sebuah
pengumuman bahwa Universitas Mesir ingin mengirimkan delegasi ke Prancis untuk
belajar S2. Taha yang ingin melanjutkan geliat keilmuannya kemudian mengajukan
permohonan kepada universitas. Namun, pihak universitas menolak permohonan
tersebut sebanyak tiga kali sebelum akhirnya menerima permohonan Taha. Ia
kemudian belajar di Mount Pellier selama setahun sebelum pulang ke Mesir karena
keadaan ekonomi universitas yang memburuk.
Ketika
keadaan ekonomi universitas membaik, Taha kembali ke Prancis untuk belajar.
Namun, kali ini tak pergi ke Mount Pellier. Ia belajar di Universitas Sorbonne,
Paris, tempat para pemikir terkenal dunia pernah belajar pada tahun 1916. Taha
belajar Adab di jurusan Sejarah dan Ilmu Sosial. Tesisnya yang berjudul al-Falsafah
al-Ijtimâ’yah ‘inda Ibn Khaldoun membuatnya memperoleh gelar doktoral di
universitas Sorbonne. Taha juga mendapatkan gelar diploma dalam jurusan Bahasa
Latin. Untuk tesisnya, Taha dibimbing langsung oleh tokoh sosiologi terkenal
Prancis, Emile Durkheim. Taha lulus dari Universitas Sorbonne pada tahun 1919.
Sepanjang
perjalanannya di Paris, ia jatuh cinta dengan temannya, mahasiswi Prancis yang
bernama Suzanne Brisseau. Suzanne adalah mahasiswi cerdas yang banyak membantu
Taha dalam belajar. Melalui Suzanne, Taha Husein mengenal puisi-puisi Jean
Racine, salah seorang penyair Prancis yang masyhur. Dikarenakan versi Braille
dari bacaan wajib kuliah sulit didapatkan, Suzanne sering membacakan buku-buku
tersebut kepada Taha. Taha melamar Suzanne pada tanggal 9 Agustus 1917. Melalui
Suzanne, Taha memiliki dua anak, yaitu Amina Hussein dan Moenis Hussein. Taha
sering berkata tentang Suzanne, “Jika tidak ada Suzanne, aku adalah orang
buta.”
Sepulang
dari Prancis, Taha diangkat menjadi salah satu pengajar Sejarah di Universitas
Kairo. Kemudian, ia dialihkan menjadi pengajar Sastra Arab dan Bahasa Semit. Dalam
Majma’ al-Lughah al-‘Arabiyah, Taha berperan dalam pembuatan al-Mu’jam
al-Kabîr. Pada tahun 1950, ia ditunjuk menjadi menteri pendidikan. Taha
menerapkan pendidikan gratis saat ia menjabat dan mewajibkan pendidikan bagi
masyarakat Mesir. Salah satu moto yang ia gaungkan waktu itu adalah “Belajar
itu seperti air dan udara; ia adalah hak bagi setiap warga negara.” Taha Husein
juga mendirikan beberapa universitas penting di Mesir seperti Universitas ‘Ain
Syams dan Universitas Alexandria.
Taha
Husein banyak menghasilkan karya tulis semenjak ia pulang dari Prancis.
Sebagian besar membahas problematika kesastraan, sosial dan peradaban. Dalam
bukunya Taha Husein... min al-Inbihâr bi al-Gharbî ilâ al-Intishâr li
al-Islam, Dr. Muhammad Imarah, salah satu pemikir Mesir, membagi tahapan
pemikiran Taha Husein dalam empat fase. Pertama,
fase keraguan dan kebimbangan Taha terhadap identitas peradaban Mesir. Taha
bimbang antara mazhab Hizb al-Ummah oleh Ahmad Luthfi Sayyid yang
menyerukan nasionalisme Mesir murni dan al-Hizb al-Wathanî oleh
Mushthafa Kamil yang menyerukan ruh keislaman ke dalam negara.
Kedua, fase di mana Taha sangat mengagumi
peradaban Barat dan pemikiran-pemikirannya. Ia berkontribusi dalam pembuatan
buku al-Islâm wa Ushûl al-Hukm karya Syeikh Ali Abdur Razaq. Pada fase
ini pula bukunya yang kontroversial, fî as-Syi’ri al-Jâhilî ditulis.
Selepas buku tersebut terbit, ia mendapatkan banyak kecaman dari pihak al-Azhar
maupun pemikir sesamanya. Taha dituding telah mencela agama melalui pendapatnya
tentang Ibrahim, qiraat al-Qur’an dan silsilah Nabi SAW dalam bukunya
tersebut. Di antara pemikir yang mendebat buku tersebut adalah Sa’ad Zaghlul, Mushthafa
Luthfi al-Manfouluthi, Abbas ‘Aqqad dan Mushtafa Shadiq ar-Rafi’i. Taha Husein
sempat pergi ke Prancis agar konflik yang menimpanya tersebut reda.
Ketiga, fase di mana Taha Husein banyak
menulis tentang keislaman. Di fase ini, Taha membela Islam dari tuduhan para
orientalis. Pada masa ini pula Taha banyak menulis tentang politik kolonial
Barat dan pentingnya kemerdekaan bagi negara Mesir. Meskipun begitu,
jejak-jejak pemikiran Barat masih melekat pada Taha. Pada masa ini Taha menulis
buku fenomenalnya Mustaqbal as-Tsaqâfah fî Masr tahun 1938. Keempat, fase
di mana Taha cencerung pada kearaban dan keislaman Mesir daripada ke-fir’aun-an
yang ia usulkan sebelumnya. Fase-fase tersebut mencerminkan perjalanan
Taha Husein sebagai seorang intelektual yang membuka diri terhadap pembaruan
dan pendapat lawannya.
Taha
Husein telah menuliskan lebih dari enam puluh judul buku. Di antaranya,
terdapat 6 riwayat. Karyanya yang paling terkenal adalah autobiografi yang
berjudul al-Ayyâm, buku kritik terhadap syair Jahili yang berjudul fî
as-Syi’r al-Jâhilî dan Mustaqbal as-Tsaqâfah fî Masr yang membahas
tentang masa depan peradaban Mesir. Banyak dari karyanya telah diterjemahkan ke
dalam berbagai bahasa. Taha Husein juga menulis lebih dari 1300 artikel. Beliau
masuk dalam calon penerima Nobel Sastra sebanyak 14, yang pertama pada tahun 1973.
Namun, ia belum pernah memenangkan penghargaan tersebut selama hidupnya.
Walakhir,
kehidupan masa kecil Taha memengaruhi bagaimana ia belajar di masa depan. Sifat
kritis yang ia punya membawa Taha menuju puncak keilmuan meskipun ia buta. Pun
sifat terbuka terhadap pelbagai kritik yang mengarah kepadanya. Pada tahun
1953, Taha menunaikan ibadah haji. Ia kemudian menulis buku tentang Islam
berjudul Mirâh al-Islâm. Di dalamnya, beliau menggambarkan kehidupan
Arab sebelum Islam, perjalanan Nabi Saw. dan para Khalifah. Ia juga menjelaskan
urgensitas al-Qur’an dan Sunnah terhadap peradaban Arab. Pada 28 Oktober 1973,
Taha Husein akhirnya pulang ke pangkuan Tuhan pada usianya yang ke-84 tahun.

Posting Komentar