Oleh : Azfa Afiqoh Azkarinah
Senin, 20 Januari 2025, perwakilan SEMA FBA Mesir bersama
anggota Safiratul ‘Ilmi menghadiri pertemuan kedua dari Multaqâ’ Thullâb Wâfidîn.
Pertemuan ini diadakan oleh Markaz Tathwîr dan dibimbing langsung oleh Dukturah
Nahla Sa’idy. Multaqâ Thullâb Wâfidîn bertujuan untuk menyediakan fasilitas
keilmuan dan kreativitas para mahasiswa asing Universitas Al-Azhar. Setelah
pertemuan pertama di bulan Desember 2024 lalu yang bertema “Bahasa Arab dan Keistimewaannya”,
pertemuan kali ini memiliki tema “Pentingnya Membaca dan Makna dari Ummatul
Iqra’.”
Multaqâ’ Thullâb Wâfidîn dihadiri oleh 24 perwakilan mahasiswi
dari berbagai macam fakultas dan kekeluargaan Indonesia. Dukturah Nahla
berharap pertemuan-pertemuan berikutnya dapat menjangkau lebih banyak partisipan
dari berbagai macam bangsa dan negara. Mengingat, kemajemukan pelajar Universitas
Al-Azhar yang terdiri dari 137 warga negara yang disatukan oleh agama dan bahasa.
Tidak lama setelah para peserta mengisi ruang pertemuan, Dukturah Nahla
Sa’idy tiba didampingi oleh Duktur Hussam Syakir dan Dr. Muhammad ‘Abdul Fattah.
Acara dibuka dengan pendahuluan oleh Duktur Hussam yang menyampaikan topik
pembahasan seputar hal ihwal membaca.
Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan acara inti, yaitu wejangan dari Dukturah
Nahla Sa’idy. Dalam penuturannya, Dukturah Nahla Sa’idy menyampaikan beberapa
hal penting yang mendorong beliau untuk membentuk pertemuan ini. Salah satunya
adalah pemikiran bahwa umat Islam adalah umat yang satu dan tidak berpecah-belah.
Selain itu, beliau juga berkata bahwa kekuatan pedang dan material bukanlah
kekuatan yang paling besar. Namun, akidah lah kekuatan yang paling hebat dan
paling berpengaruh. Sejarah menjadi saksi atas itu. Karena itu, beliau mengingatkan
urgensitas membaca.
Beliau menuturkan, seorang muslim perlu banyak memberi perhatian dalam memenuhi
kebutuhan akal daripada memenuhi kebutuhan perut. Tersebab, perut memiliki kapasitas
yang terbatas, sedangkan akal tidak memiliki batas tertentu hingga dapat
dikatakan penuh. Selain itu, membaca adalah alat utama dalam memenuhi kebutuhan
akal akan ilmu. Ilmu yang seorang muslim pelajari itulah bekal yang bermanfaat
untuk masyarakat. Maka, tanpa membaca, seorang muslim tidak mungkin dapat
mempelajari ilmu dan berperan aktif dalam meningkatkan taraf berpikir
masyarakat.
Berkaitan dengan hal tersebut, beliau sangat berharap bahwa para mahasiswa yang
jauh merantau dari tanah airnya untuk dapat memiliki konsentrasi yang kuat
untuk membentuk generasi yang lebih baik dari sebelumnya, terutama untuk para perempuan
generasi ini yang memegang kendali sekolah pertama bagi generasi selanjutnya.
Soal keperempuanan, Dukturah Nahla menegaskan bahwa perempuan memiliki keahlian
yang tidak dimiliki oleh laki-laki. Keahlian tersebut adalah berpadunya dua
kecerdasaan, yaitu kecerdasan intelektual dan kecerdasan emosional (‘Athifah).
Terdapat banyak problematika sosial yang tidak dapat diselesaikan kecuali
oleh seseorang yang memiliki kecerdasan emosional. Dalam bukunya yang berjudul An-Nisâ’
Al-Musyriqât, beliau mengisahkan beberapa tokoh perempuan berpengaruh yang
memiliki kecerdasan emosional tersebut. An-Nisâ’ Al-Musyriqât adalah kumpulan kisah
pendek perempuan yang berpartisipasi besar dalam kemajuan masyarakat. Buku tersebut
terdiri dari 4 Jilid dengan 5 tokoh Perempuan di setiap jilidnya. Dalam menyambut
pameran buku internasional yang akan digelar di Kairo, beliau menyampaikan bahwa
An-Nisâ’ Al-Musyriqât akan tersedia dalam pameran buku tersebut.
Di akhir pertemuan, Duktur Hussam Syakir memberikan kesempatan kepada para
partisipan untuk menyampaikan keluhan serta kebutuhan fasilitas keilmuan yang dapat
disediakan oleh Markaz Tathwir. Beliau menawarkan berbagai macam kegiatan
keilmuan seperti pembelajaran Khat ‘Arabiy, penulisan Maqal ‘Arabiy,
juga penyelenggaraan lomba-lomba pidato dan nasyid. Tidak hanya itu, beliau pun
menjawab berbagai macam keluhan dari perwakilan anggota senat fakultas
lain tentang permasalahan yang dialami oleh para mahasiswi. Walakhir, setelah
semua keluhan tersampaikan, acara pun diakhiri dengan khidmat.
إرسال تعليق