Ummu Kulthum: Suara Abadi dari Tanah Nil

 Oleh: Muhammad Rizki Sugiri


“Anugerah dunia.” Begitulah sastrawan peraih Nobel, Naguib Mahfouz, menggambarkan secara singkat namun mendalam Sang Bintang dari Timur, Ummu Kulthum. Tahun lalu, majalah musik bergengsi asal Amerika, Rolling Stone, menempatkan Ummu Kulthum di posisi ke-61 dalam daftar 200 Penyanyi Terbesar Sepanjang Masa. Ia menjadi satu-satunya penyanyi Arab dalam daftar tersebut.


Ia lahir dengan nama Fatimah Ibrahim al-Baltaji pada tahun 1904 di desa kecil bernama Tamay al-Zahayrah, Delta Nil. Ayahnya seorang guru mengaji di desa. Sedangkan ibunya merupakan perempuan rumahan yang sederhana. Tak ada yang menyangka, dari desa sunyi dan keluarga biasa ini, akan lahir seorang perempuan yang kelak mengguncang dunia Arab dengan suaranya. Ia menyanyi sejak kecil. Awalnya, Umm Kulthum hanya ikut mengiringi ayah dan kakaknya di pertunjukan qasidah dan lagu keagamaan. Karena norma sosial saat itu menganggap tabu anak perempuan yang tampil di muka umum, ia menyamar dengan pakaian laki-laki saat tampil. Namun, suaranya tak bisa disamarkan: suaranya terlalu jernih dan menyentuh.


Ketika akhirnya ia hijrah ke Kairo, dunia seolah membuka pintu kesempatan untuknya lebar-lebar. Kota itu, yang penuh dengan gairah sastra, politik, dan kebudayaan, menjadi kawah candradimuka Ummu Kulthum. Ia belajar dari para maestro Mesir: Syaikh Abu al-’Ila Muhammad, Zakariyya Ahmad, dan sastrawan besar seperti Ahmad Rami. Ia menyerap segalanya: maqâmat, syair Arab klasik, teknik panggung dan filosofi suara. Bahkan, ia juga belajar bacaan al-Qur’an dari para ulama besar, sehingga cengkok dan artikulasinya begitu tajam dan mengandung ruh spiritual yang dalam.


Terkadang saya berpikir, bagaimana mungkin seorang perempuan dari desa terpencil, hidup di zaman ketika teknologi belum meraja, bisa menjadi sangat terkenal? Ummu Kulthum meledak di masa ketika kabar butuh waktu lama untuk menyebar, ketika suara hanya bisa didengar orang banyak lewat radio, dan ketika perempuan harus menembus batas budaya dan sosial yang mengekang mereka. Rasanya seperti keajaiban. Ia tidak hanya berhasil muncul ke permukaan, ia menguasai permukaan itu. Ia menjadi legenda bukan karena bantuan algoritma, tapi murni karena kekuatan suara, disiplin, dan kecerdasannya membaca zaman.


Lagu-lagu Ummu Kulthum bukan hanya musik. Lirik lagunya adalah percakapan panjang antara dirinya dan hati para pendengar. Lagu-lagu seperti Enta ‘Omri, Al-Atlal, Fakkaruni bukan sekadar romantika. Mereka adalah teks hidup yang merangkum cinta, kesedihan, pengkhianatan, bahkan semangat nasional. Tidak sedikit yang mendengarkan lagu-lagunya sambil menangis, bukan karena patah hati, tetapi karena merasa dimengerti. Ia tidak sekadar menyanyi; ia mengisahkan tentang manusia.


Tak hanya dalam seni, Ummu Kulthum juga hadir dalam dunia politik. Ketika Revolusi Mesir meledak, ia berdiri bersama rakyat. Ketika negara membutuhkan dana perang, ia berkeliling mengadakan konser dan menyumbangkan hasilnya. Ia menjadi simbol. Dalam sebuah pidato, Gamal Abdel Nasser berkata, “Setiap bangsa memiliki senjata rahasia. Kita punya Ummu Kulthum.”


Museum Ummu Kulthum yang sekarang berdiri di Kairo hanyalah serpih kecil dari jejak hidupnya. Di sana tersimpan gaun-gaun panggungnya yang penuh kemilau, kacamata hitam bulat yang khas, mikrofon tua yang menemaninya di ratusan konser, hingga benda yang paling ikonik: tongkat kecil yang disebut “pemukul sum”. Benda sederhana itu ia genggam untuk mengatur tempo lagu dan berinteraksi dengan orkestra. Lebih dari itu, tongkat itu seperti simbol bahwa Ummu Kulthum bukan hanya bintang panggung, ia adalah pemimpin atas panggung. Ia memimpin musisi, mengatur penonton, dan mengatur perasaan.


Kairo tidak pernah benar-benar tidur, tetapi pada 3 Februari 1975, ia seakan berhenti berdetak. Ummu Kulthum wafat setelah sakit panjang. Kabar itu mengguncang dunia Arab. Dalam waktu singkat, jutaan orang tumpah ke jalan. Mereka tidak hanya ingin melihat jasadnya untuk terakhir kali. Masyarakat Mesir ingin menjadi bagian dari sejarah panjang maestro Musik itu. Prosesi pemakamannya dikerumuni banyak orang layaknya lautan manusia. Lebih dari empat juta orang memadati kota. Mereka menangis, berdoa dan menyanyikan lagunya di tengah kerumunan. Peti jenazahnya sempat terbawa keluar dari jalur resmi karena direbut oleh rakyat yang tak rela menyerahkan Ummu Kulthum kepada bumi.


Tidak ada konser perpisahan yang lebih agung daripada hari itu. Ia diiringi bukan oleh orkestra, tapi oleh suara jutaan hati yang menangis. Mungkin, inilah ujian terakhir bagi seorang legenda: ia dikenang bahkan setelah bisu, dicintai bahkan setelah tiada.


Ummu Kulthum telah lama pergi. Namun suara itu, suara yang pernah menyentuh Delta Nil, menyapu gurun, menyusup ke jendela-jendela rumah, menenangkan tentara, membesarkan hati bangsa, masih hidup sampai hari ini. Ia tidak hanya menyanyi untuk zamannya. Ia menyanyi untuk semua zaman. Ummu Kulthum bukan hanya diva, tapi juga kekuatan besar yang menyatukan dunia Arab dengan suaranya. Ia menjadikan puisi sebagai milik rakyat, memperluas bentuk musik Arab lewat improvisasi dan menumbuhkan rasa cinta tanah air melalui lagu-lagunya.


Di masa ketika dunia Arab mengalami krisis identitas, penjajahan, dan konflik politik, Ummu Kulthum hadir sebagai cahaya. Ia dan pendengarnya menciptakan sesuatu yang tak tergantikan.

إرسال تعليق

Post a Comment (0)

أحدث أقدم