Grand Opening Usbu Adab wa Tarikh 2025; Jejak Sejarah dan Suara Sastra untuk Palestina



Pewarta: Muhammad Kamil

Usbu Adab Wa Tarikh yang dinisiasi oleh SEMA FBA Mesir resmi dibuka pada 16 Juli 2025 di kafe Zone, Gamalia. Simbolisasi Grand Opening Usbu Adab wa Tarikh dilaksanakan dengan pemotongan pita oleh Abdul Muta’ali, Atdikbud KBRI Kairo, didampingi oleh Rizki Sugiri selaku ketua SEMA FBA Mesir, dan Asyaf sebagai ketua pelaksana. Acara yang mendapat dukungan besar dari Atdikbud KBRI Kairo ini menjadi bukti bahwa Masisir, khususnya mahasiswa Fakultas Bahasa Arab, tidak hanya berproses matang dari segi keilmuan, tetapi juga terampil dalam berorganisasi.


Selain pembukaan secara simbolis, Grand Opening Usbu Adab wa Tarikh tahun ini diisi dengan bincang sastra dan sejarah yang berkaitan dengan perjuangan Palestina. Dengan menghadirkan para pakarnya, bincang ala talk show ini diharapkan dapat membuat audiens  memahami seluk beluk sejarah dan sastra Palestina. Asyaf menegaskan bahwa acara ini  bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan alarm sekaligus refleksi sudah sejauh mana kepedulian kita dengan dinamika dan gejolak yang terjadi di Palestina.


Dalam sambutannya, Rizki Sugiri memperkenalkan rangkaian acara Usbu Adab Wa Tarikh selanjutnya yang tak kalah seru, yaitu Rihlah Tarikhiyah dan Rihlah Adabiyah. Penutup rangkaian Usbu Adab Wa Tarikh akan diisi seminar bersama Duktur Ala Janib, Dekan Fakultas Lughah Arabiyah Kairo. Tak hanya itu, penutupan juga akan dimeriahkan dengan penyerahan penghargaan kepada warga FBA teladan, seperti para pengampu bimbel dan mahasiswa yang aktif menghadiri kuliah maupun kajian.


Pada sesi bincang sastra, Nikmatul Istiqomah tampil sebagai pemateri dengan Ririn sebagai moderator. Ia membawakan tema “Sastra Perlawanan: Palestina di Mata Para Penyair”. Ia menerangkan bagaimana sastra bisa memainkan peran besar dalam menyuarakan perlawanan terhadap okupasi Israel. Konflik Palestina yang hampir setiap waktu memenuhi layar media sosial kita, secara  perlahan dan tanpa kita sadari mampu mengikis empati kita. Karena itu, membaca karya-karya sastra perlawanan terhadap Zionis menjadi cara untuk merawat sekaligus membangkitkan intuisi, agar kita tak punya pilihan selain peduli kepada saudara di sana.


“Musuh yang dihadapi Palestina saat ini bukanlah wajah baru; ia telah lama menancapkan taringnya di tanah itu, mengakar dalam sejarah penindasan yang Panjang. Karena itu, setiap upaya dari segala arah mesti terus digerakkan, mulai dari kerja-kerja pengorganisasian politik, gerakan boikot, aksi demonstrasi, hingga puisi. Tersebab, dalam perjuangan yang tak kunjung usai ini, setiap suara, sekecil apapun itu, perlu bergandengan untuk mencabut akar penjajahan sampai ke dasarnya,” ucap Nikmatul Istiqomah.


Sesi bincang sejarah diisi oleh M. Syauqi Syahid dengan Haikal kamal sebagai moderator. Tema yang diangkat adalah “Dari Konferensi Asia-Afrika hingga Tahrir: Sejarah Solidaritas Global Untuk Palestina”. Lewat materi yang dibawakannya, peserta memperoleh fakta bahwa jauh sebelum mereka, tokoh bernama Abdul Kahar Muzakkir sebagai delegasi Indonesia dalam Muktamar Islam Internasional Al-Quds 1931 adalah seorang Masisir. Di penghujung materi, Syauqi mengajak audiens untuk tidak berhenti pada rasa tahu tentang kemirisan Palestina, tetapi turut mengambil bagian dalam membela mereka dengan berbagai cara.


“Selama ini kita sering melontarkan tentang solidaritas, tapi sudahkah kita memahami maknanya? Solidaritas itu artinya satu rasa, sama asa.” ucap Syauqi.


Usai sesi bincang, acara ditutup dengan penyerahan penghargaan kepada pemateri dan moderator. Salah satu peserta dari Malaysia, Nabil, menyampaikan kegembiraannya bisa hadir dalam Grand Opening kali ini.


“Bincang ini membuka mata saya bahwa boikot bukan satu-satunya jalan untuk kita yang tak punya kuasa besar. Ternyata, kita punya cara tersendiri yang lebih akrab dengan kita sebagai mahasiswa fakultas Bahasa Arab, yaitu lewat sastra. Saya juga dapat menyimpulkan bahwa kesatuan para sastrawan dalam menggubah sastra perlawanan untuk Palestina merupakan prinsip penting sebagai langkah utama dalam menyuarakan isu Palestina yang tak berujung.” ujarnya.

 

 

1 تعليقات

إرسال تعليق

Post a Comment

أحدث أقدم