Andalusia: Cahaya yang Redup dalam Dekapan Kelalaian

 Oleh: Muhammad Fathin Fadhlullah


Andalusia bukan hanya sebuah nama, ia adalah contoh nyata sebuah negeri yang berada di puncak peradaban pada zaman itu. Selama berabad-abad, Andalusia berdiri sebagai mercusuar peradaban di tengah gelapnya peradaban Eropa. Kemegahannya terpancar melalui gaya arsitektur yang menawan. Yang membuat Andalusia bersinar adalah perannya dalam ilmu pengetahuan. Banyak kota di dalamnya menjadi pusat intelektual dunia. Di Andalusia juga dibangun berbagai perpustakaan yang di dalamnya terdapat banyak sekali manuskrip dan karya ilmiah yang dilahirkan oleh para ilmuwan.


Bagaikan negeri impian, Andalusia diberkahi dengan keindahan alam yang memukau dan kekayaan alam yang melimpah. Tanah yang subur dan perdagangan yang pesat membuat masyarakat hidup dalam kesejahteraan. Namun, hal tesebut menjadi cikal bakal lahirnya sebuah bencana bagi Andalusia.


Seiring berjalannya waktu, gaya hidup mewah mulai menjangkiti para penduduknya. Berbagai tempat hiburan yang melalaikan menjadi daya tarik utama. Hal tersebut mengubah perilaku dan sifat penduduk Andalus yang semula haus akan ilmu mejadi sibuk akan urusan duniawi dan terlena di dalamnya. Akibatnya, mereka lalai atas ancaman musuh yang muncul dari luar. Hancurnya Andalusia lahir dari berbagai faktor utama yang bermula dari kondisi internal.


Konflik tersebut bermula dari fanatisme rasial. Timbulnya rasa bangga yang berlebihan terhadap sebuah suku atau ras yang ditandai dengan masifnya sekat-sekat sosial antara bangsa Arab, Barbar dan penduduk asli. Hal ini mengakibatkan perpecahan dan gesekan sosial yang tak terelakkan. Fenomena ini akhirnya merembet menjadi persoalan yang lebih besar. Awalnya, Andalusia yang bersatu di tangan kekuasaan kekhalifahan Andalusia kini terpecah menjadi kerajaan-kerajaan kecil yang menguasai teritorinya sendiri.


Mirisnya, alih-alih bersatu melawan kekuatan eksternal yang mulai mengikis wilayah Muslim yang diakibatkan dari lahirnya gerakan Reqonquista, raja- raja kecil ini justru saling berebut kekuasaan  dan wilayah demi mengedepankan hawa nafsu mereka masing-masing. Sejarah mencatat bahwa beberapa penguasa Muslim rela menjual harga dirinya dengan bekerja sama dengan para musuh untuk menggulingkan kerajaaan saudara Muslimnya sendiri. Hal ini menjadi celah yang dimanfaat oleh musuh-musuh Islam dengan melancarkan strategi adu domba di antara umat Muslim.


Puncak tragedi ini diabadikan dalam sebuah karya sastra yang sangat pilu. Seorang penyair dari Andalusia yang menceritakan dan meluapkan rasa sedihnya akan sebuah negeri yang dulunya disanjung bagai negeri dongeng, sekarang  hancur akibat terlena dalam nafsu duniawi.

لِكُلِّ شَيءٍ إِذا ما تَمَّ نُقصانُ ... فَلا يُغَرَّ بِطيبِ العَيشِ إِنسانُ

"Segala sesuatu jika telah mencapai kesempurnaan, maka akan tampak kekurangannya. Maka janganlah manusia tertipu dengan manisnya kehidupan."

Ar-Rundi mengingatkan kita melalui fakta sejarah bahwasanya kerajaan besar sekalipun dapat musnah akibat melupakan nilai-nilai luhur dan terjebak dalam jurang keserakahan. Penyair menggambarkan runtuhnya kota-kota besar di Andalusia seperti Valencia, Sevilla dan Kordoba sebagai luka yang tidak dapat disembuhkan.


Kisah Andalusia ini menjadi pelajaran besar untuk kita semua. Kemegahan dan kemajuan sebuah peradaban bisa runtuh dan hancur jika tidak dibarengi dengan moral dan nilai persatuan. Andalusia tidak hancur karena pedang musuh semata, tetapi karena api perpecahan dan kelalaian yang menyebar akibat terlena dalam kenikmatan duniawi.


إرسال تعليق

Post a Comment (0)

أحدث أقدم