Kenapa Cairo International Book Fair Begitu Melegenda?

 Oleh: Muhammad Fathin Fadhlullah



Para mahasiswa yang kuliah di Mesir pasti tidak asing dengan Cairo International Book Fair (CIBF). CIBF adalah pameran buku yang diadakan setiap tahun di Kairo. Di balik kemegahannya, CIBF memiliki sejarah yang penjang hingga bisa berdiri untuk menjaga kegiatan intelektual di benua Afrika dan Timur Tengah.


Pada mulanya, Thawrat Okasha, Menteri Kebudayaan Mesir, di bawah pemerintahan presiden Gamal Abdul Naseer bernisiatif untuk membuat perayaan Milenium Kairo (ulang tahun kota Kairo ke 1000) dengan membuat pameran guna meningkatkan intelektual dan kebudayaan Mesir.


Seiring berjalannya zaman, pameran ini terus berkembang dan naik hingga skala international. CIBF menjadi pusat bertukar pikiran dan distribusi buku utama bagi penerbit-penerbit dari Lebanon, Suriah dan negara-negara teluk. Bahkan, CIBF termasuk pameran buku terbesar setelah Fankfurt Book Fair dalam hal pengujung.


Pada setiap tahunnya, CIBF dekelola oleh General Egyptian Book Organization. Sepanjang sepak terjangnya, CIBF sudah beberapa kali dihadang tantangan. Ketika revolusi 2011 di Mesir, pameran ini sempat dibatalkan karena terjadi protes besar-besaran di lapangan Tahrir. Kemudian, CIBF kembali hadir setahun kemudian sebagai simbol kebangkitan suara rakyat.


Bukan hanya itu, pameran ini juga sempat tertunda karena pandemi Covid-19, dikarenakan prosudur yang begitu ketat. Akan tetapi, pada akhirnya pameran ini berhasil dilaksakan kembali di bulan juni 2021. Hebatnya, di saat banyak pameran buku dunia ditutup, CIBF tetap berusaha hadir untuk menghidupkan intelektual dan kebudayaan di dunia Arab. Ini menjadi bukti pentingnya acara ini untuk menjaga ekonomi kreatif Mesir.


Setiap tahunnya, pameran buku tertua dan terbesar di dunia Arab ini selalu mengusung tema yang berbeda. Pada kali ini, CIBF terfokus pada peran teknologi dan generasi muda dimana Artificial Intelligence (AI) dan produksi konten budaya di era digital. Hal ini menjadi topik menarik yang nanti akan dipamerkan di CIBF tahun ini.


CIBF tahun ini juga mengundang Romania sebagai Guest of Honor. Negara ini dipilih sebagai bentuk perayaan 120 tahun hubungan diplomatik antara Mesir dan Romania. Nantinya, para tamu delegasi, termasuk penulis ternama dan seniman, akan ikut serta memeriahkan acara ini dengan memperkenalkan sastra kontenporer dan budaya mereka pada publik Mesir.


Bukan hanya itu, tokoh legendaris Mesir sekaligus pemenang nobel, Naguib Mahfous dipilih sebagai “Personality of the Year”. Selain Naguib, para panitia juga memilih Muhyiddin al-Labib, seorang seniman visual, desainer, dan ilustrator buku anak-anak sebagai “Personality of the Year”. Para tokoh ini dipilih karena memilik pengaruh yang besar dalam sisi kebudayaan di dunia Arab.

إرسال تعليق

Post a Comment (0)

أحدث أقدم