Jami’ Abu al-Dzahab; Sebuah Upaya Menyaingi Jami’ Al-Azhar

 Oleh: Muhammad Aghni*


Sumber foto: Wikipedia bahasa Indonesia, Masjid Abu Ad-Dzahab

Namanya adalah Jami’ Abu al-Dzahab. Masjid ini terletak persis di samping Jami’ al-Azhar, dekat dengan kompleks al-Ghouri dan tepat berada di samping Nafaq Azhar. Ia memiliki sejarah menarik yang banyak terlewatkan oleh kebanyakan Masisir tanpa tahu tempat itu.


Masjid dan Madrasah ini didirikan pada tahun 1773-1774 M oleh Muhammad Bey Abu al-Dzahab yang merupakan seorang Amir dari Mamluk di zaman Ottoman di Mesir. Dia merupakan seorang bekas budak dari Amir Ali Bey al-Kabir. Sudah menjadi rahasia umum di kalangan Mamalik bahwa Sultan yang memimpin saat itu merupakan budak dari seorang bekas pemimpin. Ia menjadi Sultan dengan cara yang licik. Fitnah, politik kotor dan pembunuhan merupakan cara yang sudah biasa bagi seseorang untuk memperoleh kekuasaan pada masa itu.


    Lalu, siapa Muhammad Bey Abu al-Dzahab? Dan apa tujuannya membangun masjid dan madrasah di samping Jami’ al-Azhar yang sudah menjadi pusat pembelajaran para penuntut ilmu kala itu?


    Seperti yang sudah disinggung, Muhammad Bey merupakan seorang bekas budak yang dibeli oleh Amir Ali Bey al-Kabir. Tujuan utamanya membangun masjid dan madrasah adalah untuk menyaingi popularitas Jami’ al-Azhar. Karena itu, ia melarang para ulama dan pelajar untuk melakukan kegiatan belajar mengajar di sana. Semua kegiatan tersebut harus dilakukan di masjid yang ia dirikan. Sayangnya, hanya dalam beberapa tahun saja, Jami’ al-Dzahab mulai ditinggalkan oleh para ulama dan pelajar. Mereka semua kembali ke al-Azhar.


    Muhammad Bey sendiri memulai karir politiknya dengan menggulingkan kekuasaan tuannya, yaitu Ali Bey al-Kabir hingga mengusirnya sampai ke daerah Syam. “Abu ad-Dzahab” sendiri merupakan gelar untuk dirinya. Maknanya adalah “Pemilik Emas” karena ia sering memakai jubah yang dilapisi koin emas ketika mengendarai kuda. Juga, dia tidak menaruh apapun di kantongnya selain emas dan tidak memberi apapun selain emas. Dia berkata, “Aku adalah pemilik emas dan tidak ada apapun yang kubawa (di saku) melainkan emas.”


    Setelah diusir beberapa tahun oleh Muhammad Bey, Ali Bey al-Kabir kembali lagi ke Mesir karena rindu akan kekuasaan lamanya dan menyiapkan pasukan untuk menghadapi Muhammad Bey yang kala itu sudah menjadi Amir di Mesir. Mendengar hal tersebut, Muhammad Bey langsung menyiapkan pasukan untuk menghadapi seseorang yang dulu adalah tuannya itu. Hingga pada akhirnya Ali Bey al-Kabir kalah dalam pertempuran tersebut dan ditangkap serta dipenjara di Kairo hingga ia wafat.


    Al-Jabarti menggambarkan Muhammad Bey Abu al-Dzahab sebagai orang yang mencintai ilmu, para ulama dan orang-orang sholeh. Ia menghormati mereka, mendengarkan perkatannya, dan memberi mereka hadiah yang begitu besar. Dia membenci orang yang menentang agamanya atau menghinanya. Dia memiliki kulit yang putih, bertubuh sedang serta berisi, dan memiliki janggut yang panjang.


    Pengambaran al-Jabarti tersebut berlebihan. Dia lupa bahwa Muhammad Bey banyak melakukan kejahatan di daerah Syam dan Palestina. Dia mengambil alih kekuasaan az-Zahir Umar yang merupakan amir di wilayah Palestina dan Syam yang berada di bawah kekuasaan Ottoman. Dia juga mengepung kota Yaffa dan membombardir penduduknya dengan meriam selama beberapa hari hingga para penduduk naik ke tembok tertinggi dan mengutuk perbuatan orang-orang Mesir dan amirnya dengan hinaan yang sangat buruk. Dia juga menjarah penduduk, menangkap, dan mengikat mereka dengan rantai. Kemudian, ia membawa para penduduk keluar kota lalu membunuh mereka semua, termasuk wanita dan anak-anak.


    Pada akhirnya, Muhammad Bey Abu al-Dzahab wafat di kota Akko setelah sakit demam selama 3 hari.


    Masjid Abu al-Dzahab ini memiliki posisi yang strategis. Bangunan ini dikelilingi bangunan-bangunan peninggalan dinasti Fatimiyah dan Mamalik serta memiliki sebutan lain, yaitu Masjid Mu’allaq karena berada di atas toko-toko. Bangunan ini memiliki 3 pintu utama: pintu pertama menghadap ke Masjid Sayyidina Husein, pintu kedua menghadap Jami’ al-Azhar, pintu ketiga terletak di tempat wudhu berhadapan langsung dengan pasar dan Wikalah Sultan al-Ghouri. Di dalamnya, terdapat masjid, madrasah, Khanqah (tempat Sufi beribadah) dan juga tempat wudhu serta kamar mandi.



*Penulis adalah mahasiswa tingkat 3 Fakultas Bahasa Arab Prodi Sejarah. Hobi makan coklat. 

إرسال تعليق

Post a Comment (0)

أحدث أقدم