Mesir di Bawah Naungan Sayap Agung Alexander

 Oleh: Kelompok Sejarawan Mesir Kuno

Sumber gambar: Situs Web Britannica


    Mesir merupakan negeri makmur yang memiliki letak geografis yang menguntungkan, sehingga negara ini menjadi primadona yang menarik imperium-imperium besar untuk menaklukannya. Sebelum ditaklukan oleh Alexander Agung dari Makedonia, Mesir merupakan salah satu provinsi Imperium Persia yang tunduk di bawah rezim Raja Darius. Mesir ditaklukan oleh Persia dalam Perang Pelusium di tahun 525 SM oleh Raja Cambyses II yang merebut Mesir dari tangan Psamtik III.

 

Hubungan Yunani dan Mesir sudah terjalin cukup panjang. Bahkan, buku Târîkh Masr Al-Qadîmah karya Dr. Fathi Afifi dan Dr. Sayyid Muhammad Ammar menerangkan bahwa, pada masa pendudukan Persia di Mesir, Imperium Yunani seringkali memberikan bantuan kepada pemberontak dari kalangan rakyat Mesir, baik berupa bantuan militer maupun logistik untuk menggulingkan kekuasaan Persia.

 

Hingga pada tahun 357 SM, Alexander III, putra Philip II dari istrinya Olympias, diangkat menjadi Raja Makedonia pada usia 20 setelah ayahnya dibunuh pada 336 SM. Dalam ensiklopedia online Britannica, disebutkan bahwa Philip II, yang telah mengubah Makedonia menjadi kekuatan besar, dibunuh oleh Pausanias, seorang bangsawan muda yang memiliki dendam pribadi terhadap Philip dan Attalus, paman dari istri Philip, Cleopatra. Pembunuhan terjadi saat pesta pernikahan Cleopatra dengan Alexander dari Epirus. Meskipun ada spekulasi tentang keterlibatan Olympias dan Alexander dalam pembunuhan tersebut, banyak yang berpendapat bahwa ini adalah hasil dari motif pribadi Pausanias, bukan konspirasi politik.

 

Penaklukan Mesir adalah langkah penting dalam ambisi Alexander untuk menciptakan imperium yang besar. Hal ini dikarenakan letak mesir yang sangat strategis untuk jalur perdagangan, sehingga menguasai Mesir akan memberikan akses yang lebih baik ke rute perdagangan penting di Laut Mediterania, hal ini membuat Mesir menjadi salah satu wilayah tujuan Alexander untuk ditaklukan

 

Alexander Agung tiba di Mesir melalui serangkaian pertempuran dan perjalanan yang dimulai setelah dia mengalahkan pasukan Persia. Penaklukan Alexander Agung atas Mesir terjadi pada tahun 332 SM. Setelah mengalahkan pasukan Persia di Pertempuran Granicus dan Pertempuran Issus/Essos, dia disambut sebagai penyelamat oleh penduduk setempat yang merasa tertekan oleh kekuasaan Persia. Setelah tiba, Alexander Agung langsung menguasai kota-kota utama, termasuk Memphis, serta mendapatkan dukungan dari rakyat Mesir. Melalui langkah ini Alexander berhasil mencapai Mesir dan membangun fondasi untuk pemerintahannya di wilayah tersebut.

 

Alexander mendirikan kota Alexandria, yang menjadi pusat perdagangan dan pertukaran budaya. Lokasi ini memudahkan akses ke berbagai rute perdagangan yang penting, serta menjadikan Alexandria sebagai pusat ilmu pengetahuan. Hal ini terwujud dengan didirikannya Perpustakaan Alexandria.

 

Alexander berusaha mengintegrasikan nilai-nilai budaya Yunani dengan Mesir dari berbagai aspek, seperti sinkretisme dewa-dewa Yunani dengan Mesir. Contohnya, ia menyamakan Dewa Amun dengan Zeus, atau Horus dengan Apollo. Dari segi seni dan arsitektur, pembangunan kuil yang mengikuti gaya tradisional Mesir sekaligus menggabungkan pengaruh artistik Yunani, seperti di kuil Horus di Edfu. Pengaruh Yunani tampak jelas dalam gaya representasi manusia yang lebih menggairahkan dalam ukiran relief dan patung.

 

Setelah kematian Alexander Agung pada 323 SM, kekaisarannya dibagi antara para jenderal, yang menyebabkan berdirinya dinasti Ptolemeus di Mesir. Ptolemeus I Soter, Jenderal Alexander, menjadi penguasa Mesir dan menyatakan dirinya sebagai raja pada 305 SM dan memulai pemerintahan dinasti Ptolemeus hingga kematian Cleopatra VII pada 30 SM.

 

Dengan berakhirnya kekuasaan Alexander Agung dan berdirinya dinasti Ptolemeus di Mesir, pengaruh budaya dan politik Yunani terus bertahan di wilayah tersebut. Mesir menjadi titik pertemuan antara tradisi Timur dan Barat, di mana budaya Yunani dan Mesir saling berinteraksi dan berkembang. Meskipun dinasti Ptolemeus akhirnya runtuh dengan kematian Cleopatra VII, warisan Alexander Agung di Mesir tetap berpengaruh dalam sejarah dan budaya dunia, yang menciptakan jejak yang abadi dalam perjalanan peradaban manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


إرسال تعليق

Post a Comment (0)

أحدث أقدم