Dari Mastabah ke Piramida: Perkembangan Arsitektur Makam Mesir

  Oleh: Kelompok Sejarawan Mesir Kuno

Sumber gambar: Britannica

Ketika mendengar tentang arsitektur Mesir Kuno, yang pertama terbayang adalah piramida-piramida besar yang megah. Ternyata, pemakaman para raja Mesir Kuno tidak langsung berbentuk piramida. Bentuk dan cara pemakaman di Mesir Kuno mengalami evolusi yang menarik untuk diketahui; mulai dari pemakaman sederhana di gurun pasir, sampai ke piramida raksasa. Masing-masing tahap mencerminkan kepercayaan dan status sosial masyarakat Mesir pada zaman itu.


Merujuk pada kepercayaan Mesir Kuno, yang mana masyarakatnya sangat mengagungkan matahari, terdapat keyakinan bahwa tempat terbitnya matahari merupakan awal dari kehidupan. Sebaliknya, terbenamnya matahari menandai akhir kehidupan. Karena hal ini, tempat terbitnya matahari mereka anggap sebagai Bumi Kehidupan, dan tempat terbenamnya matahari sebagai Bumi Kematian. Mereka juga menganggap Sungai Nil sebagai pembatas antara dua tanah tersebut. Itulah alasan mengapa pemakaman Mesir Kuno banyak ditemukan di daerah barat aliran Sungai Nil.


Pada era Pra-Dinasti, pemakaman Mesir Kuno mneggunakan metode seperti halnya pemakaman saat ini: menggali tanah dan memasukkan jasad beserta barang-barang berharga ke dalamnya, kemudian ditimbun dengan bebatuan dan pasir, serta memberikan suatu tanda di atas makam tersebut sebagai isyarat adanya sebuah makam. Metode ini sama halnya dengan liang lahat yang telah diketahui secara umum.


Seiring berjalannya waktu, pemakaman bangsa Mesir Kuno mengalami evolusi. Pemakaman yang sebelumnya berbentuk seperti liang lahat, berubah menjadi mastabah atau pelataran. Mastabah berbentuk persegi, yang mana pondasinya dibangun melebar. Kemudian, pondasi tersebut dibangun meninggi di atas permukaan tanah. Bangunan ini juga mencakup pintu masuk dan keluar yang ada pada dinding luar bangunan. Bentuk makam seperti ini dibangun menggunakan batu bata dan batuan gamping. Adapun jasad dimakamkan di tengah mastabah pada suatu area yang dinamakan Ruang Pemakaman, dengan menggunakan sarkofagus atau peti mati yang terbuat dari batu. Bentuk makam seperti ini mulai digunakan sejak penyatuan Mesir Hulu dan Mesir Hilir hingga akhir Dinasti II era Kerajaan Lama.


Setelah berevolusinya pemakaman yang sebelumnya liang lahat menjadi mastabah, ia mengalami evolusi sekali lagi, yaitu piramida. Nantinya, piramida ini menjadi cikal bakal pemakaman yang identik dengan Mesir Kuno. Hal ini diawali pada zaman Raja Djoser dari Dinasti III, yang membangun mastabah menjadi 6 tingkat atas inisiasi dari Imhoteb selaku pendeta agung dan arsiteknya. Pembangunan makam dengan metode seperti ini terus dilakukan hingga masa Raja Snefru. Nantinya, Raja Snefru membangun piramida dengan konsep yang sama seperti apa yang dilakukan oleh para pendahulunya, namun dengan bentuk yang lebih sempurna.


Sayangnya, proses pembangunan piramida yang sempurna itu tidak mudah. Raja Snefru harus melalui proses yang panjang dalam menyempurnakannya. Hal ini dapat diketahui dari percobaan pembangunan piramida pertamanya, dimana piramida itu memiliki tingkat kemiringan yang berbeda. Bangunan sebelumnya yang memiliki tingkat kemiringan 53,31 derajat dianggap oleh para arsitektur saat itu berdampak pada robohnya piramida. Oleh sebab itu, pada ketinggian 49,07 meter, tingkat kemiringan piramida tersebut diubah menjadi 43,21 derajat. Piramida pertama Raja Snefru ini dianggap sebagai piramida yang gagal karena memiliki bentuk yang tidak simetris. Berdasarkan evaluasi dari piramida pertamanya, Raja Snefru kembali membangun piramida dengan tingkat kemiringan 43,40 derajat. Tingkat kemiringan ini menjadi standar dalam pembuatan piramida-piramida selanjutnya hingga akhir Dinasti ke-6.


Berkembangnya tahapan pemakaman raja-raja Mesir Kuno dari mastabah menjadi piramida memiliki alasan tersendiri. Hal tersebut dikarenakan, pada masa itu, marak terjadi pencurian dan perusakan makam oleh para penjarah makam dan anjing gurun. Dengan demikian, makam dibangun dengan beberapa tingkatan di atasnya untuk mengantisipasi dari adanya para penjarah makam dan anjing gurun.


Demikian evolusi pemakaman pada zaman Mesir Kuno, dari liang lahat sederhana hingga piramida megah yang menjadi simbol abadi Mesir. Setiap tahapan yang terjadi mencerminkan betapa berharganya kehidupan setelah mati bagi masyarakat Mesir Kuno. 


Daftar Rujukan:

Dr. Muhammad Saleh Ali. Mishra al-Qadimah: al-Aqaid wal Imarah ad-Diniyah wal Jana’iziyah

Dr. Ahmad Rif’at Abdul Jawwad. Madkhal lidirasah Atsar Mishra al-Qadimah

Muhammad Iqbal Nurul Awal. Ensiklopedia Piramida Mesir Kuno


إرسال تعليق

Post a Comment (0)

أحدث أقدم