Mengulik Nazam Dalam Tradisi Keilmuan

Oleh: Muhammad Kamil



 Dalam khazanah Islam, metode hafalan merupakan bagian integral dalam proses menimba ilmu. Hal tersebut sejatinya telah dikenal dan dipraktekkan sejak zaman baginda Rasulullah SAW . Setiap menerima wahyu, beliau langsung menyampaikan dan memerintahkan para sahabat untuk menghafalkannya. Sebelum memerintahkan untuk dihafal, terlebih dahulu beliau menafsirkan dan menjelaskan kandungan dari setiap ayat yang baru diwahyukan. Hingga era modern ini, menghafal merupakan aktivitas intelektual yang masih dipertahankan.


Salah satu metode yang eksis di kalangan pelajar Muslim adalah bertahap yang dimulai dari mempelajari Matan. Setelah menyelasaikan suatu Matan dan memahaminya dengan baik, seorang murid dianjurkan untuk menghafalkannya sehingga ia lanjut menapaki tahapan di atasnya. Selain untuk melatih kecerdasan, hafalan tersebut akan memudahkannya dalam mengonsep berbagai permasalahan. Pun juga ketika murajaah. Matan terbagi kepada dua jenis, prosa dan berbentuk bait yang lebih dikenal dengan nazam. Dalam tulisan ini, penulis akan memfokuskan pembahasan tentang nazam.


 Berdasarkan khazanah kesusastraan Arab, yang disebut dengan nazam adalah mandzûmât ‘ilmiyyah (tuturan berpola yang berisi ilmu pengetahuan dan informatif). Nazam memiliki irama dan pola yang teratur, rima yang konsisten, serta struktur yang padat dan ringkas, sehingga otak lebih cepat mengenali dan mengingat urutan kata. Selain itu, kata-kata dalam nazam sering memiliki keterkaitan makna yang erat, memudahkan pemahaman dan penghafalan secara bertahap. Metode pengajaran nazam juga biasanya melibatkan pengulangan berkali-kali, seperti dalam tradisi pesantren yang sering melantunkannya dengan nada tertentu, sehingga semakin memperkuat daya ingat.


Antara nazam dan syair secara sepintas tidak menampakkan perbedaan yang tampak. Akan tetapi, sejatinya, dua hal tersebut berbeda sekalipun memiliki kesamaan. Kesamaan antara keduanya terletak pada keterikatan dengan wazan, qâfiyah dan bahar. Meskipun pada syair modern mulai muncul apa yang disebut dengan syair bebas yang tidak lagi terikat oleh wazan. Kesamaan tampilan tersebut tak jarang menyulitkan orang untuk membedakannya kecuali bagi kalangan kritikus.


Terkait kemiripan tersebut, Al-Manfaluthi, dalam bukunya an-Nadzarât, menjelaskan bahwa tidak semua tuturan yang tertata (mauzûn) adalah sya'ir, tetapi bisa jadi adalah nazam. Seorang nâdzim (pencipta nazam) belum tentu seorang penyair. Perbedaan antara syair dan nazam, menurutnya, terletak di balik bentuk lahirnya. Secara lahir baik syair maupun nazam sama-sama memiliki irama dan wazan. Tetapi, syair tidak harus selalu tertata, dalam arti memiliki irama dan musikalisasi di akhir tiap barisnya, sedangkan nazam tidak bisa lagi disebut demikian jika ia tidak memiliki karakteristik tersebut.


Adapun dalam hal perbedaan, dapat kita tinjau dari segi bahasa. Namun, mari kita amati terlebih dahulu beberapa bait syair dan nazam berikut:

إلهي لست للفردوس أهلاولا أقوى على النار الجحيم    

فهب لي توبة واغفر ذنوبي         فإنك غافر الذنب العظيم


Bait i‘tirâf karya Abū Nuwās tersebut menggambarkan perjalanan spiritual dan penyesalan mendalam seorang hamba yang penuh dosa, tetapi tetap berharap pada ampunan Allah. Dengan bahasa yang puitis dan penuh makna, ia menuangkan perasaan takut, bersalah, serta harapan dalam untaian kata yang menggugah. Kejujurannya dalam mengakui kesalahan serta kepasrahannya terhadap rahmat Allah menjadikan puisi ini begitu menyentuh. Ungkapan yang ia gunakan tidak hanya memperkuat makna, tetapi juga menciptakan kesan mendalam bagi siapa saja yang membacanya. Bait ini menjadi refleksi bahwa harapan dan kasih sayang Tuhan selalu terbuka bagi mereka yang benar-benar ingin kembali.

إدراك مفرد تصورا علم        ودرك نسبة بتصديق وسم

وقدم الأول عند الوضع      لأنه مقدم بالطبع


    Bait di atas adalah potongan dari kitab as-Sullam al-Munauraq karya imam al-Akhdharî. Dalam bait tersebut, beliau menjelaskan dua pembahasan utama dalam ilmu Mantiq, yakni tashawwur dan tashdîq pada bait awal, serta alasan kenapa tashawwur didahulukan pada bait setelahnya.


Dengan mengamati masing-masing dari contoh syair dan nazam di atas, kita dapati bahwa bahasa yang digunakan dalam nazam adalah bahasa ilmiah. Hal tersebut dikarenakan objek nazam adalah akal, sedang syair objeknya adalah hati. Maka, psikologi seorang pembaca syair akan bereaksi sesuai emosi yang diterimanya, sedangkan  pembaca nazam cenderung merasakan kepuasan intelektual.


Adapun dalam proses kreatif, syair dapat diciptakan dengan kesadaran penuh dan direkayasa, atau hanya mengandalkan intuisi-imajinasi yang mengedepankan orisinalitas karena materinya yang menonjolkan ekspresi perasaan. Adapun nazam, ia hanya dapat diciptakan dengan kesadaran penuh dan memerlukan rekayasa dalam pengungkapannya. Tersebab, materinya yang terfokus pada pengetahuan.


Setelah memahami perbedaan mendasar antara nazam dan syair, kini kita dapat menelaah lebih lanjut salah satu aspek mendasar dalam nazam, yaitu bahar. Kebanyakan karya nazam para ulama berwazan Rajaz Muzdawaj. Bahar Rajaz dijuluki Himâr as-Syu’arâ (keledainya para penyair). Julukan itu muncul karena ia dianggap pola paling mudah dan sederhana sehingga sering digunakan oleh penyair. Adapun Muzdawaj adalah setiap bait yang terdiri dari dua baris memiliki rima yang sama.


 Lantaran terbilang mudah dan efektif, para ulama menjadikannya standar dalam pembuatan nazam-nazam ilmiah. Kemudian, lahirlah beragam nazam keilmuan yang beberapa diantaranya familiar di kalangan santri seperti Alfiyyatu ibn Malik, as-Sullamu al-Munauraqu, ‘Aqîdatu al-‘Awâm, Matnu az-Zubad, Nazhmu al-‘Imrîthî, Tuhfatu al-Athfâl, Manzhumatu al-Baiqûniyyah, al-Kharîdatu al-Bahiyyah yang kesemuanya berwazan Rajaz Muzdawaj.


Walakhir, adanya nazam merupakan terobosan dan kecerdikan para ulama untuk menjaga dan mewariskan ilmu-ilmu pengetahuan. Adalah suatu keniscayaan, sebuah metode tidak melulu sesuai bagi semua individu. Namun, sejatinya menghafal dan berfikir bukanlah sesuatu yang bertentangan, melainkan bergandengan. Oleh karena itu, mari kita biasakan diri kita untuk berfikir dan menghafal.

إرسال تعليق

Post a Comment (0)

أحدث أقدم